Rabu, 28 Januari 2015

MENGIKUT JEJAK KRISTUS

MENGIKUTI JEJAK KRISTUS 

Baca:  Filipi 1:27-30

"Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,"  Filipi 1:29

Mengikuti jejak Kristus berarti harus mau menderita bagi Dia.  Yesus berkata,  "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."  (Matius 16:24).  Menyangkal diri berarti pada saat dihadapkan pada dosa, dengan kesadaran penuh memutuskan tidak berbuat dosa dan lebih memilih melakukan kehendak Tuhan.  Kita berani berkata tidak terhadap kenyamanan dan keinginan daging yang seringkali menjadi penghalang untuk hidup menurut kehendak Tuhan.

     Orang yang menyadari akan statusnya sebagai  'ciptaan baru'  di dalam Kristus akan bertekad untuk menanggalkan manusia lamanya dan terus mengenakan manusia baru, supaya tubuh dosa hilang kuasanya.  "Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--,"  (1 Petrus 4:1).  Namun banyak orang Kristen yang berusaha menghindari firman yang menyinggung tentang penyangkalan diri, ketaatan, pikul salib, ujian dan bayar harga.  Yang mereka cari dan kejar-kejar adalah khotbah-khotbah hamba Tuhan yang hanya berbicara tentang kekayaan, kelimpahan, berkat dan mujizat.  Akibatnya ketika menghadapi masalah, penderitaan dan teguran firman yang keras mereka langsung kecewa, lemah, putus asa, dan bahkan berani menyalahkan Tuhan.

     Sebagai pengikut Kristus kita tidak dapat menghindarkan diri dari penderitaan, sebab selain kita dikaruniai percaya, juga dikaruniai menderita bagi Kristus  (ayat nas).  Mengapa penderitaan diijinkan Tuhan?  Penderitaan adalah salah satu cara yang dipakai Tuhan untuk menegur dan menyadarkan kita agar berhenti berbuat dosa.  Tuhan yesus meninggalkan teladan mengenai penderitaan secara badani.  "Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,"  (Ibrani 5:8), tapi Yesus tidak pernah berbuat dosa.  Setiap penderitaan akan menghasilkan ketaatan dan menarik seseorang mendekat kepada Tuhan.

"Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."  Mazmur 119:71. AMIN TUHAN YESUS MEMBERKATI SHALOM.

Jumat, 09 Januari 2015

BERSUNGUT-SUNGUT Hal Kebutuhan Hidup

Baca:  Keluaran 16:13-36

"Tetapi Musa berkata kepada mereka: 'Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu."  Keluaran 16:15b

Hal kebutuhan hidup atau urusan  'perut'  seringkali menjadi alasan banyak orang bersungut-sungut.  Mereka mengeluhkan keadaan ekonominya yang belum pulih.  Alasan makanan  (ekonomi)  ini jugalah yang membuta bangsa Israel bersungut-sungut kepada Tuhan;  dan karena sungut-sungut serta keluh kesah bangsa Israel yang begitu hebatnya inilah akhirnya Tuhan memberikan manna sebagai makanan bagi mereka.

     Manna disebut pula dengan roti dari sorga, makanan yang diberikan Tuhan kepada orang Israel selama berada di padang gurun:  "...warnanya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti rasa kue madu."  (Keluaran 16:31).  Tuhan menurunkan manna setiap hari, kecuali pada hari Sabat, dengan maksud supaya mereka beristirahat dan menguduskan hari Tuhan.  Namun meski sudah mendapatkan cukup makanan, umat Israel tetap saja bersungut-sungut, bukan hanya kepada pemimpin mereka tapi juga kepada Tuhan.  Mereka terus membanding-bandingkan keadaan saat di Mesir,  "Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat."  (Bilangan 11:5-6).

     Mungkin keadaan kita saat ini seperti berada di padang gurun dan kita pun bersikap seperti bangsa Israel yang terus bersungut-sungut kepada Tuhan, padahal kita sudah menerima  'manna'  dari sorga, gambaran dari firman Tuhan untuk menguatkan kita.  Tetapi seringkali  "...kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah."  (Matius 13:22).  Kita pun membanding-bandingkan diri dengan keadaan orang-orang di luar Tuhan yang sepertinya hidup penuh kenyamanan, sementara kita tidak.  Daya tarik  'Mesir', lambang kehidupan duniawi yang penuh kemewahan pun begitu menyilaukan mata kita, sehingga kita tidak bisa mensyukuri berkat Tuhan.  Berhentilah bersungut-sungut!

Berada di  'padang gurun'  adalah kesempatan bagi kita melihat dan mengalami mujizat Tuhan!. Amin Tuhan Yesus Memberkati Shalom..

Rabu, 07 Januari 2015

Bersungut-sungut Di Tengah Mujizat

Keluaran 15:22-27

"Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa,"  Keluaran 15:24

Bersungut-sungut memiliki arti menggerutu atau mengomel.  Bersungut-sungut adalah lawan dari bersukacita.  Berbicara tentang bersungut-sungut, Alkitab memberikan satu pelajaran berharga melalui kehidupan bangsa Israel.

     Kita tahu bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan, yang begitu dikasihi dan dipelihara Tuhan begitu rupa.  Tuhan membawa mereka ke luar dari perbudakannya di Mesir, dan saat berada di padang gurun mereka senantiasa mengecap pertolongan Tuhan dan penyertaan-Nya secara luar biasa.  "TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu."  (Keluaran 13:21-22).  Dengan tiang awan bangsa Israel terlindungi dari panas teriknya matahari di waktu siang, dan dengan tiang api mereka beroleh penerangan dan kehangatan di kala malam.  Sekalipun bangsa Israel belum tahu persis jalan yang harus ditempuhnya, melalui daerah seperti apa, tidak tahu apa yang akan dihadapi, serta tantangan apa yang menghadang di depan, keberadaan tiang awan dan tiang api adalah petunjuk yang mengarahkan mereka kepada perjalanan yang dipenuhi dengan keajaiban.

     Begitu pula ketika menghadapi jalan buntu karena di depan ada laut Teberau, dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagaimana Tuhan melakukan perkara yang dahsyat yaitu membelah laut Teberau, sehingga  "...orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka."  (Keluaran 14:22).  Ketika orang Mesir lari menuju air laut;  "Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka."  (Keluaran 14:28).  Pasukan Firaun pun binasa di laut Teberau, sehingga bangsa Israel selamat dari kejaran Firaun dan bala tentaranya.

Mengalami banyak mujizat Tuhan tidak serta merta membuat bangsa Israel menghentikan kebiasaannya bersungut-sungut!.  
Amin Tuhan Yesus Memberkati Shalom.


Selasa, 06 Januari 2015

MEBANGUN MENARA BABIL.

Tafsiran Kitab Kejadian 11:1-9 

A Pendahulua.

Jika diperhatikan dari penciptaan (Kejadian 1) sampai pada kejadian 11:1-9, ada beberapa peristiwa penting yang menurut laporan Alkitab berdampak bagi seluruh isi bumi. Beberapa peristiwa tersebut sebagai berikut: Kejatuhan Adam dan Hawa; merupakan kejatuhan yang berakibat bagi seluruh alam semesta, bukan saja manusia, akan tetapi alam juga. Kedua air bah; menurut beberapa penafsir mengatakan bahwa, sebelum air bah bumi ini hanya satu tanpa terbagi-bagi, akan tetapi peristiwa air bah mengakibatkan adanya beberapa benua dan pulau yang saat ini kita lihat. Namun menurut penulis masih meragukan pendapat ini, sebab tidak ada indikasi yang kuat dalam peristiwa itu yang dicatat dalam Alkitab. Ketiga adalah peristiwa pembangunan sebuah kota dengan menara yang puncaknya sampai ke langit. Peristiwa ini menurut laporan Alkitab berakibat bagi seluruh manusia dalm hal bahasa verbal.

B.       Beberapa Anggapan (Tafsiran)

Peristiwa pembangunan kota yang kemudian disebut Babel (kekacauan) terjadi sekitar seribu tahun setelah peristiwa air bahwa Peristiwa ini bermula ketika manusia telah menjadi banyak jumlahnya. Ada beberapa tafsir yang sudah dikemukakan berkenaan dengan alasan manusia membangun kota tersebut dengan menara puncaknya sampai ke langit, sebagai mana yang diuraikan oleh Henry dan Wesley

  1. Untuk mengantisipasi perpecahan

Dikatakan bahwa, manusia yang telah banyak jumlahnya kawatir jika dikemudian hari mereka berpisah/terserak. Maka untuk mengantisipasi perpisahan itu manusia berpikir untuk membangun sebuah kota yang kokoh agar mereka tetap berkumpul/bersatu

  1. Antisipasi Air Bah

Meskipun Allah telah berjanji bahwa tidak akan menghukum manusia dengan air bah lagi, tetapi manusia tidak terlalu yakin akan janji itu. Peristiwa tersebut begitu melekat pada mereka, meskipun telah berlalu seribu tahun. Manusia lebih percaya pada kemampuan mereka mengamankan diri dari air bah. Kepercayaan diri dan kesatuan hari yang mereka mili inilah yang kemudia mendorong mereka membangun sebuah kota dengan menara puncaknya sampai ke langit. Bagi manusia zaman itu, seratus tahun bukalah waktu yang lama, karena umur mereka relative panjang.

Dari alasan dan tujuan pembangunan inilah Allah akhirnya menghukum manusia dengan mengacaukan bahasa manusia. Diperkirakan bahwa manusia satu bahasa dan satu logat sebelumnya, tetapi Tuhan mengacaukannya sehingga manusia akhirnya tidak saling mengerti, bingung. Dengan demikian manusia bukan lagi sibuk membangun kota dan menara, tetapi sibuk untuk berusaha saling mengerti. Pertanyaanya adalah, bagaimana Allah mengacaukan bahasa manusia itu, apakah terjadi begitu saja atau bagaimana. Penulis menjawab bahwa secara teknis, Alkitab tidak menguraikan bagaimana prose situ berlangsung, sebab bukan prosesnya yang Alkitab mau sampaikan, tetapi alas an Allah menghukum demikian dan akibatnya bagi manusia. Teologi reformed dalam hal ini menjawab bahwa “kita berjalan sejauh Alkitab berjalan dan kita berhenti sejauh Alkitab berhenti”. Alkitab hanya menceritakan latar belakang dan alasan pengacauan bahasa manusia dan akibatnya, yaitu pembangunan kota dan menara tidak jadi, dan manusia berserakan karena tidak saling mengerti satu sama lain.

C.  Pengacauan Bahasa Manusia

Apakah yang dikacaukan oleh Tuhan itu sunguh-sungguh bahasa verbal yang sekarang digunakan oleh manusia sebagai alat komunikasi? Atau kalimat itu hanya sebagai kiasan saja yang menunjukkan bahwa Tuhan marah dan menghukum manusia?

Menurut ayat 1 semua orang berbicara dalam “satu (´ehat) bahasanya dan satu (´ªhadîm) logatnya. Jika diperhatikan dari kata-kata ibrani di atas, maka memang ayat 1 berbicara mengenai bahasa verbal. Hal ini sebenarnya tidak mengherankan, sebab secara laporan Alkitab, manusia itu berasal dari satu nenek moyang, yaitu Nuh. Tentu saja Nuh dan anak-anaknya satu bahasa, satu logat atau dialek. Tidak mungkin jika satu keluarga mempunyai banyak bahasa. Secara logis, satu keluarga maka satu bahasa, logat dan dialek. Dan tentu saja, bahasa yang digunakan dalam keluarga tersebut, secara otomatis diturunkan kepada anak cucu. Jadi, kesimpulannya adalah, yang dikacaukan oleh Allah itu memang sungguh-sungguh bahasa verbal yang saat ini digunakan oleh setiap manusia menurut suku, dan bangsanya.

D.  Apa Masalahnya?

Tanpa diperhatikan secara seksama, maka tentu penghukuman Allah bagi manusia zaman itu sesuatu yang mengherankan, sebab secara sepintas manusia membangun sebuah komunitas untuk menjaga kesatuan umat manusia. Tentu secara hukum sosialogi dan hukum moralis hal ini tentu saja baik. Namun ternyata peristiwa tersebut tidak sebaik yang dipikirkan.

Ada beberapa masalah besar yang membuat manusia berdosa di hadapan Allah, yang kemudian Allah menghukum manusia dengan mengacaukan bahasa.

  1. Menentang Firman Tuhan

Menurut Jonh J. Davis, bahwa yang membuat manusia berdosa di hadapan Allah adalah sikap dan rencana manusia yang menentang firman Tuhan Allah. Sebab dalam Kej. 1:28, Tuhan berfirman kepada manusia supaya “…beranak cucu dan bertambah banyak; penuhilah bumi…”, bahkan perintah ini Tuhan Allah mengulangi kepada Nuh setelah air bah surut (Kej. 9:1). Dalam kejadian 11:1-9 ini, tampak manusia tidak mau berserak di seluruh bumi, tetapi manusia ingin tetap bersatu. Hal inilah yang menurut John J. Davis yang membuat manusia berdosa di hadapan Allah.

  1. Penghinaan Bagi Allah

Pembangunan kota itu juga merupakan penghinaan Allah, hal ini dilihat dari tujuan membangun kota tersebut, yaitu membangun menara yang puncaknya samapi ke Surga. Dalam hal ini ada indikasi dimana manusia mau menyamakan diri dengan Allah, paling tidak bersaing dengan Allah.

  1. Kesombangan Manusia

Di atas diuraikan bahwa pembanguan ini merupakan penghinaan kepada Allah, manusia mau bersaing dengan Allah. Sehingga dengan demikian dapat disimpukan bahwa pembagunan in sebagai bentuk kesombongan manusia. Henry berkata bahwa manusia ingin menorehkan nama di atas bumi agar dapat diperbincangan di sepanjang masa.

  1. Meragukan Allah

Setelah peristiwa air bah, Tuhan berfirman kepada Nuh dan berjanji bahwa Tuhan tidak akan menghukum bumi dengan air bah (Kej. 9:11). Jika tafsiran di atas yang mengatakan bahwa alasan manusia membangun kota tersebut adalah mengantisipasi air bah, maka disinilah terletak dosa manusia di hadapan Allah. Sebab jika Tuhan berfirman bahwa Dia tidak menghukum manusia dengan air bah lagi, maka itu pasti. Jika manusia bermaksud membangun kota untuk mengantisipasi air bah, artinya manusia tidak mempercayai firman Tuhan yang diucapkan-Nya kepad nuh nenek moyang mereka.

  1. E.  Kesimpulan

            Dari apa yang telah diuraikan di atas, maka tampak bahwa rencana manusia dalam Kej. 11:1-9 serius adanya. Sebab Allah tidak tampak kompromi dengan manusia, itu artinya dosa tersebut fatal di hadapan Allah.

Oleh sebab itu, sebagai orang percaya saat ini, Kej. 11:1-9 merupakan pelajaran berharga bagi jemaat Tuhan, dimana tindakan manusia yang bertentangan dengan kehendak Tuhan akan mengakibatkan manusia berdosa di hadapan Allah.

Ada beberapa hal yang menjadi pelajaran bagi manusia secara umum dalam peristiwa pengacauan bahasa tersebut:

  1. Kekuatan kesatuan manusia dengan cara dan tujuan apapun – di luar maksud Tuhan – tidak pernah berhasil dengan baik
  2. Menunjukkan bahwa ada Tuhan yang Maha Kuasa atas seluruh manusia yang mengatur seluruh hidup manusia termasuk rencana dan pemikiran manusia
  3. Seyogyanya manusia belajar untuk lebih merendahkan diri di hadapan Tuhan
  4. Manusia mestinya menyadari bahwa apapun yang dikerjakan manusia diluar makdus Tuhan itu akan sia-sia

Kejadian 11:1-9 ini juga memberikan jawaban terhadap pertanyaan modern bahwa “kenapa manusia begitu banyak bahasa?”. Jika diteliti dari sejarah mana pun, belum ada penjelasan atas banyaknya bahasa manusia, kecuali Alkitab. Amin Tuhan Yesus Memberkati Shalom.


PERTOBATAN SEJATI (REAL CONVERSION)

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 18:3). 

I.   Pertama, Anda datang ke gereja untuk beberapa alasan lain dari 
pada untuk dipertobatkan. 

II.  Kedua, Anda mulai mengetahui bahwa Allah benar-benar ada, 
Ibrani 11:6.

III. Ketiga, Anda menyadari bahwa Anda terancam dan dimurkai 
Allah oleh karena dosa-dosa Anda, Roma 8:8; Roma 2:5; Mazmur 7:11. 

IV.  Keempat, Anda datang kepada Kristus, Anak Allah, untuk penyucian dosa, Kolose 3:1-2.

VI. Mengenakan Pikiran dan Kristus. Philippians 2:5
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. 
Amin Yuhan Yesus Memberkati Shalom.

Kamis, 01 Januari 2015

Keluarga Cinta TUHAN vs Keluarga Cinta Uang

Yos 24:15, Kis 5:1-11

Keluarga adalah lembaga yang sangat penting di hadapan Tuhan. Tuhan tidak menetapkan manusia sebagai single fighter dalam hidupnya, itu sebabnya Dia menciptakan keluarga sebagai mitra Allah untuk mengusahakan dan memelihara ciptaanNya, Kej 2:15. Keluarga juga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, sehingga dapat dikatakan inti dari masyarakat ialah keluarga dan inti dari keluarga ialah suami isteri. Anak, menantu, dan cucu adalah berkat yang Tuhan tambahkan. 
Keluarga juga menjadi tempat pembelajaran yang pertama dan yang terutama. Seorang anak belajar berbicara dimulai di rumah. Nilai-nilai yang kita miliki sampai saat ini besar hubungannya dengan nilai-nilai yang telah kita terima dari orangtua sejak masa kecil sampai dewasa.
Keberadaan satu keluarga sangat ditentukan oleh suami isteri. Suami isteri yang cinta Tuhan pasti akan mendidik anak-anaknya untuk mencintai Tuhan, sehingga lahirlah keluarga-keluarga yang mengasihi Tuhan. Sebaliknya suami isteri yang jahat, tidak akan memperhatikan masalah-masalah rohani, melainkan hanya berfokus kepada uang. Jika ini yang terjadi maka segala cara akan dilakukan demi memperoleh uang. Cara hidup keluarga seperti ini, akan melahirkan keluarga-keluarga yang jahat. 

Agar dapat membedakan keluarga yang cinta Tuhan dan keluarga yang cinta uang, maka perhatikanlah ciri-ciri dari kedua jenis keluarga seperti berikut ini:

I. Keluarga yang Cinta Tuhan 

1. Hidupnya Berfokus Kepada Tuhan
Hidup yang berfokus kepada Tuhan bukan berarti tidak melakukan apa-apa, tetapi tetap melakukan kegiatan dan aktifitas sehari-hari seperti biasanya. Hanya perbedaannya ketika melakukan apa saja, dilakukan untuk Tuhan. 
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. 
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:17, 23)

2. Hidupnya Untuk Kemuliaan Tuhan
Seluruh aktifitas kehidupannya dilakukan dengan tujuan yang mulia yakni semuanya untuk kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Pekerjaannya digunakan untuk memuliakan Tuhan. Seluruh materi dan fasilitas yang dimiliki semuanya digunakan demi kebesaran Tuhan. Bahkan setiap kemampuan yang dimiliki, disadari penuh semuanya berasal dari Tuhan, karena itu harus dikembalikan untuk kemuliaan namaNya. Setiap kepercayaan, promosi, posisi, jabatan, fasilitas, semuanya hanya untuk kemuliaan Tuhan. (Roma 11:36)

3. Hidupnya Menjadi Saluran Berkat
Dengan kesadaran penuh bahwa semua fasilitas yang dimiliki berasal dari Tuhan, maka ia juga dengan sukacita menjadi saluran berkat. Menjadi saluran berkat memiliki pengertian yang sangat luas. 
Pengertian berkat di sini tidak terbatas hanya dalam pengertian materi, tetapi juga bersifat rohani. Menjadi saluran berkat, bukan untuk memperoleh berkat yang lebih besar, tetapi karena sudah memperoleh berkat yang luar biasa dari Tuhan. Berkat terbesar bukan berkat materi, tetapi berkat keselamatan yang pasti di dalam Tuhan Yesus. (Yoh 1:12; 3:16, 1 Yoh 5:11-12).
Maka dengan sukacita ia memberikan persembahan persepuluhan, persembahan syukur, persembahan diakonia, persembahan misi, dan lain-lain. 
• Memberi adalah satu kehormatan, bukan keterpaksaan. 
• Memberi tidak selalu karena berlebihan, tetapi menjadi saluran berkat di waktu kekurangan memiliki nilai dan bobot yang paling mulia. 
Ingat persembahan janda miskin yang dipuji Tuhan Yesus, bukan orang kaya yang memberi dari kelebihannya.

4. Hidupnya Dinikmati dengan Sukacita
Kehidupan yang berfokus kepada Tuhan, adalah kehidupan yang digunakan untuk kemuliaan Tuhan dan menjadi saluran berkat akan berkelimpahan dengan sukacita. Menikmati adalah salah satu karunia dari Tuhan, pemberianNya bagi umat Tuhan yang hidupnya berkenan kepadaNya. 
“Orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatu pun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.” (Pengkhotbah 6:2). Ada banyak orang memiliki banyak harta, tetapi tidak memiliki karunia untuk menikmatinya. Sebaliknya ada orang yang sederhana, tetapi beroleh karunia untuk menikmati.

5. Hidup dengan Tubuh yang Lebih Sehat
Tubuh yang sehat bukanlah tujuan, tetapi merupakan sarana untuk lebih memuliakan Tuhan. Tubuh yang sehat berawal dari kehidupan dan pola hidup yang benar. Pola hidup yang benar mencakup keseimbangan kehidupan roh, jiwa dan tubuh, 1 Tes 5:23. Keseimbangan dalam tiga area ini akan menghasilkan Roh yang perkasa, jiwa yang tenang dan tubuh yang sehat.

II. Ciri-ciri Keluarga yang Cinta Uang

1. Fokus Kepada Uang
Semua kegiatan, pekerjaan, kepandaian dan kekuatan yang dimiliki seluruhnya digunakan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Prinsipnya: “semakin banyak uang semakin bahagia.” 
• Pikirannya selalu dikusai oleh uang. 
• Menilai orang lain pun dari sisi uang. 
• Kadangkala cara untuk memperoleh uang tidak terlalu dipermasalahkan, walaupun bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran. 
Yang terpenting mendapat dan memiliki uang sebanyak-banyaknya. 
Ingat kisah Ananias dan Safira yang mendustai Tuhan melalui hambaNya, dan akhirnya mati seketika. (Kis. 5:1-11)

2. Memuaskan Keinginannya Sendiri
Semua keberadaan kehidupannya digunakan untuk mencapai kepuasan dirinya sendiri. Uang, fasilitas, kemampuan, kesempatan yang diperoleh dan dikumpulkan semuanya hanya untuk memuaskan keinginannya. Keinginan memuaskan diri sendiri ini melahirkan keluarga-keluarga yang egois. 

3. Mengumpulkan Harta / Berkat Sebanyak-banyaknya
Kehidupan yang dipusatkan kepada diri sendiri, tidak akan pernah sampai dititik kepuasan. Usaha yang keras dan maksimal dilakukan tanpa henti untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Waktu untuk bekerja demi mengumpulkan uang merupakan prioritas utama dan yang pertama dalam kehidupannya. Keluarga menjadi terlantar, tidak terkontrol, dan anak-anak tidak memiliki waktu yang cukup dengan orang tua. Keadaan ini melahirkan keluarga yang rapuh, pecah dan berantakan.

4. Tidak Dapat Menikmati Hidup
Hidup di luar Tuhan memang tidak dapat dinikmati. Jikalau kehidupan hanya difokuskan kepada uang dan pekerjaan, tidak ada waktu untuk Tuhan, maka hasilnya hanya kuatir, gelisah dan ketakutan. Seberapa banyakpun uang yang dimiliki tanpa Tuhan menghasilkan hidup yang tidak tenang. 

5. Lebih Sering Sakit
Kekuatiran, kegelisahan dan ketakutan merupakan sumber penyakit yang sangat dominan pada hari-hari terakhir ini. Ditambah pula dengan gaya hidup yang tidak benar, pola makan yang salah, membuat kehidupan sangat rentan dengan sakit penyakit.

Fokus kepada Tuhan atau fokus kepada uang adalah pilihan. 
• Kaya bukanlah tujuan, tetapi akibat dari mengutamakan Tuhan di atas segalanya. Mat 6:33. 
• Memiliki uang tidaklah salah, tetapi yang dilarang Tuhan janganlah cinta uang. 1 Tim 6:10.

Pilihlah hari ini untuk fokus kepada Tuhan, maka hidupmu pasti diberkati, janganlah fokus kepada uang. 

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15). Amin Tuhan Yesus Memberkati Shalom.