Ziarah Iman bersama Para Kudus:
Oktober
16 Oktober
Renungan:
Nabi Elia percaya dan patuh taat kepada Sabda Allah. Secara ajaib ia diberi makan oleh Tuhan melalui burung-burung gagak yang membawa kepadanya roti dan daging. Memang Tuhan Mahakuasa. Kuasa dan cinta kasih Tuhan nampak juga dalam hidup dan perbuatan-perbuatan ajaib yang dikerjakan oleh Santo Gerardus Majella. Banyak perbuatan manusia beriman yang nampaknya bukan tanda, tetapi bukan tanpa bantuan kuasa Tuhan. “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5).
17 Oktober
Renungan:
Kebijaksanaan Tuhan nampak dalam penampakan Hati Kudus Yesus. Hati adalah tanda atau lambang cinta kasih, ungkapan segala perasaan dan emosi yang menyenangkan dan membahagiakan. “Pikullah kuk yang Ku-pasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29). Beban berat dan duka derita hidup pun akan menjadi ringan. Suster Margareta Maria Alacoque menjadi saksi akan kebesaran sabda Tuhan Yesus ini. Dari kecil sampai wafatnya ia mengalami banyak duka derita. Ia berlindung kepada Yesus dalam Komuni Kudus dan adorasi di depan Sakramen Mahakudus. Penampakan Hati Kudus Yesus menguatkan iman, bukan saja Margareta, melainkan segenap umat Tuhan. Suka duka, salah paham, iri hati, curiga dan cemburu adalah kerikil-kerikil tajam kehidupan manusia. Bahkan dengki dan benci bisa terjadi dalam komunitas keluarga maupun komunitas biara-biara. Senjata rohani kita adalah doa untuk kawan dan lawan kita. Santa Margareta Maria Alacoque berlindung pada Yesus dalam tabernakel. Banyak orang yang memikul beban berat, merasa letih lesu dan bahkan jatuh tergelincir. Sungguh sayang mereka lupa bahwa Yesus dalam tabernakel, dalam kapela-kapela dan gereja-gereja berseru, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Pergilah kepada Hati Kudus Yesus yang lemah-lembut dan rendah hati.
18 Oktober
Renungan:
Banyak orang Israel di zaman para nabi merasa senang dan gembira mendengarkan nabi-nabi, utusan Tuhan, yang datang menyampaikan firman Tuhan kepada mereka. Mereka akan bersukaria apabila sang nabi berseru: “Kita selamat.” Rasa gembira dan sukacita yang dialami oleh orang yang berkemauan baik pastilah dialami juga oleh St Lukas. Semua pengalaman mengenai keselamatan dibukukan dan dilestarikan dalam kitab Injilnya dan dalam kitab Kisah Para Rasul. Lukas adalah seorang dokter; betapa senang dan gembira ia mengetahui para pasien disembuhkan. Terlebih, orang-orang berdosa yang bertobat diampuni dosanya seperti dalam perumpamaan anak yang hilang. Betapa kita bersyukur dan bersukacita mengetahui bahwa orang berdosa yang bertobat masih dapat diselamatkan. Pengalaman iman menambah iman. Puji Tuhan!
19 Oktober
Renungan:
Salib dan sengsara Yesus menjadi semangat hidup dan landasan karya Kongregasi Passionis. Memang suka duka sudah menjadi teman hidup setiap anak cucu Adam di mayapada ini. Dalam hidup bermasyarakat manusia juga mengalami suka duka. Krisis moneter, krisis ekonomi yang bagaikan badai melanda bangsa Indonesia dan berpuncak pada pembakaran rumah-rumah, gedung-gedung pasar swalayan dan plaza adalah akibat dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Banyak barang dijarah dan kendaraan dibakar hangus. Banyak orang tewas terpanggang. Dan penderitaan nasional masih terus berlanjut dengan amukan massa yang ganas bagaikan ditunggangi iblis dalam peristiwa 13 dan 14 Mei 1998. Gelombang sengsara dan penderitaan masih berlanjut, sampai kapankah? Gereja mengajak kita acapkali merenungkan sengsara Tuhan kita Yesus Kristus. Dengan demikian kita belajar menghadapi penderitaan hidup kita dengan mempersatukan penderitaan kita dengan penderitaan Yesus, serta mempersembahkannya kepada Allah Bapa. Maka, kita akan dapat mengatasi segala penderitaan hidup dengan tabah dan tawakal.
20 Oktober
Renungan:
Allah adalah kasih. Allah tidak bisa tidak mengasihi. Itulah pengalaman semua rasul dan para martir. Hanya, dari pihak manusia kasih kepada Tuhan dan kepada sesama dapat tidak awet bahkan dapat musnah. Irene, seorang perempuan cantik jelita, karena kasihnya kepada Kristus lebih suka mempersembahkan diri kepada Kristus daripada menjadi isteri orang kaya. Akibat pilihan hidupnya itu, ia tewas dibunuh oleh pembunuh bayaran. Jadi, di manakah terletaknya kasih Kristus? Tentu saja dalam hidup kekal; itulah tujuan akhir hidup kita. Orang beriman sejati akan tetap mengasihi Tuhan karena kasih setia-Nya. “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu” (Mazmur 13:6).
21 Oktober
Keluhuran budi dan kegagahberanian Santa Ursula mengilhami Santa Angela Merici untuk memilih Ursula menjadi pelindung tarekat religius suster-suster yang didirikannya di Brescia pada tahun 1535. Perlindungan St Ursula atas tarekat Ursulin membuat tarekat itu berkembang menjadi suatu lembaga religius yang besar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tarekat itu kini lebih dikenal dengan nama “Ordo Suster-suster Ursulin (OSU)”. Tarekat Ursulin mulai bekerja di Indonesia sejak tahun 1856.
Renungan:
Yesus Tuhan dan Juru Selamat kita melakukan kehendak Bapa dengan menjadi kurban, wafat di salib. Itulah kurban yang hidup dari Kristus. Santa Ursula dan kawan-kawannya meneladani jejak Kristus. Dengan gigih Ursula membela imannya, kemurniannya, bahkan sampai mati dibunuh. Itulah kurbannya yang hidup, yang berkenan kepada Allah. “Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1). Setiap orang, sesuai panggilan hidupnya, dipanggil untuk mempersembahkan tubuhnya sebagai kurban yang hidup. Untuk itu kita perlu selalu hidup dalam suasana tobat, rendah hati, berdoa bagi semua orang, khususnya orang berdosa, rajin berdoa mencari Allah dan kehendak-Nya.
22 Oktober
Renungan:
Menurut kisah Kitab Suci, Santa Salome berperan sebagai seorang pelayan bagi Yesus. Menjadi pelayan Kristus berarti menjadi hamba-Nya. Banyak hamba Tuhan yang bersedia melayani siapa saja yang membutuhkan seperti santa Salome dan perempuan-perempuan lainnya melayani Yesus. Besarlah pengorbanan yang diberikan oleh banyak pelayan Tuhan dalam kebun anggur-Nya. Tentunya, masih banyak lagi pelayan-pelayan lain yang secara tidak langsung bersedia melayani mereka yang membutuhkan bantuan. Ya, benar kita menjalani hidup ini bagai seorang pelayan. Karena dengan melayani, kita dilayani. Dan dengan menjadi hamba-Nya, kita menjadi milik-Nya. Sungguh baik kita merenungkan nasehat Bunda Maria kepada kita melalui anak-anak di Medjugorje: Anak-anak, aku mengundangmu untuk bertobat secara pribadi. Tanpa kalian, rencana Allah tidak dapat direalisasikan. Anak-anakku, berkembanglah dari hari ke hari semakin dekat kepada Allah melalui doa. Aku memberimu senjata guna melawan goliatmu. Inilah batu-batumu:
1. Berdoa Rosario dengan hati
2. Ekaristi
3. Kitab Suci
4. Berpuasa
5. Pengakuan dosa setiap bulan
23 Oktober
Renungan:
Allah Tritunggal Mahakudus: Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Tiga pribadi ilahi hidup dalam persatuan abadi. Yesus juga menghendaki persatuan macam itu terdapat dalam para pengikut-Nya: tinggal dalam Dia, supaya Dia tinggal dalam mereka, dan melalui Dia Allah Tritunggal, Keesaan abadi, tinggal dalam para pengikut-Nya. “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Hasil persatuan St Yohanes Capestrano dengan Yesus, Imam Agung, Raja dan Nabi dalam persatuan dengan Allah Tritunggal dan dengan Gereja kudus serta dalam Tarekat OFM adalah karya kerasulannya di seluruh penjuru Eropa. Yesus meninggalkan warisan suci, mulia, luhur tiada bertara, yakni Ekaristi Kudus yang adalah peringatan Paskah Kristus, yaitu karya penyelamatan yang sudah digenapi Kristus lewat hidup, wafat, dan kebangkitan-Nya. Persatuan kita dengan Tuhan Yesus dalam Perayaan Ekaristi berpuncak dalam Komuni Kudus. “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yohanes 15:4). Hasil dari persatuan kita dengan Yesus banyak: pengarnpunan dosa-dosa kita, hubungan dengan Yesus dan sesama yang semakin erat, banyak berkat rohani dan jasmani seperti yang dialami oleh St Yohenes dari Capestrano. Cintailah Ekaristi. Itulah sarana persatuan dan kehidupan kekal bersama Yesus.
24 Oktober
Renungan:
Tuhan menciptakan tiap-tiap orang lewat bangsa, suku, nenek moyang, ayah dan ibunya. Tuhan memperlengkapi tiap-tiap orang itu dengan bakat-bakat untuk mencapai tujuan dan maksud seperti yang dikehendaki Tuhan demi kemuliaan-Nya dan keselamatan umat manusia. Hal ini terlihat jelas dalam perjalanan hidup Santo Antonius sebagai imam, uskup agung, serta karya hidupnya sebagai misionaris antara lain: penerbitan media Katolik, karya-karya tulis, pendidikan imam di seminari, penasehat Ratu Isabella serta organisasi-organisasi sosial, bahkan mempertahankan ajaran tentang infalibilitas paus. Sungguh agung karya Tuhan karena Tuhan sendiri membimbing serta menyertainya setiap hari. “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:20).
25 Oktober
Margareta seorang perempuan saleh yang dibunuh oleh suaminya pada tahun 1176. Ia dimakamkan di luar tempat pemakaman orang-orang beriman. Awalnya suaminya menyangkal dan mengatakan Margareta mati gantung diri. Tetapi, di makam Margareta terjadi banyak mukjizat. Penipuan suaminya pun terbongkar. Jenazah Margareta digali dan dimakamkan di Gereja Roskilde, Denmark.
Renungan:
Ajaran Yesus dan sakramen-sakramen-Nya dipelihara dan dilestarikan oleh Gereja-Nya. Lewat Sakramen Ekaristi Yesus mengalirkan rahmat keselamatan yang diperoleh-Nya bagi manusia melalui kurban salib dan tubuh mistik-Nya, yakni Gereja. Ekaristi adalah pusat dan puncak kehidupan Gereja. Adalah tugas Gereja untuk membangun umat Allah di muka bumi. Hasil karya misioner gereja selama 2000 tahun menjangkau seluruh dunia. Dengan menghayati dan mengamalkan nasehat-nasehat injili, para religius berperan serta dalam membangun dan menyelamatkan dunia. Seorang teladan religius adalah Mgr. Leo Soekoto, SJ. Beliau mampu menghimpun dan mempersatukan para imam, biarawan biarawati dari pelbagai tarekat dan bangsa serta umat dan pelbagai suku bangsa dalam Keuskupan Agung Jakarta. Beliau wafat dan disemayamkan di Pemakaman Girisonta, dekat jalan raya menuju Yogyakarta, tempat beliau belajar dan berkarya sebagai imam biarawan SJ.
26 Oktober
Lucianus dan Marcianus keduanya adalah tukang sihir. Suatu ketika, seorang perempuan Kristen mematahkan kutuk mereka hanya dengan membuat Tanda Salib. Sebab itu, mereka membakar buku-buku sihir mereka dan bertobat. Setelah menjadi Kristen, mereka menjual harta milik dan membagikannya kepada fakir miskin, lalu keduanya mengasingkan diri untuk berdoa dan bertapa. Mereka pergi ke Bithinia dan daerah-daerah lainnya juga untuk menyebarkan dan mewartakan Injil. Sementara itu Raja Decius mengeluarkan keputusan untuk menangkap orang-orang Kristen di daerah Bithinia. Lucianus dan Marcianus ikut ditangkap dan dibawa ke Prokosul Sabinus. "Dengan kekuasaan apakah kalian berani mewartakan Kristus?" tanya Sabinus. Lucianus menjawab, "Setiap orang harus berusaha sungguh-sungguh untuk membebaskan saudara-saudaranya dari kesesatan yang berbahaya." Mereka disiksa secara keji agar menyangkal iman. Namun, kesengsaraan yang diderita tidak membuat mereka goyah, bahkan dengan gembira mereka menyambut hukuman dibakar hidup-hidup pada tahun 250 di Nikomedia.
Renungan:
Yesus bersabda, “Firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku” (Yohanes 14:24). Ia memaklumkan BapaNya kepada kita, demikian juga karya-nya, kebaikan-Nya, kehendak-Nya dan belas kasih-Nya kepada manusia. Ia mewartakan berita keselamatan bagi seluruh dunia di tengah pertentangan dan perlawanan rnusuh-musuh-Nya. Ia mengorbankan hidup-Nya, mengutus para rasul, mendirikan gereja-Nya, menetapkan sakramen-sakramen. Ia membentuk persekutuan baru antara Allah dan manusia dan mengajar hukum yang menyempurnakan hidup yaitu cinta kasih. Maka ketika Bapa di surga berbicara untuk kedua kalinya bahwa Yesus adalah PutraNya yang terkasih, Bapa bersabda, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nya-lah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Matius 17:5). Sebab, sabda Yesus, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6).
27 Oktober
Renungan:
“Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Matius 19:29). Janji Tuhan Yesus pasti digenapi. Upah di dunia yang baru pasti melebihi segala ukuran di dunia ini. Itulah yang dimaksud dengan seratus kali lipat. Dan kepadanya juga akan diberikan hidup sejati dan kekal. Pokoknya apa saja yang kita lakukan demi kemuliaan dan keselamatan sesama, seperti yang dilakukan oleh Frumensius dan Edesius akan diganjar dengan hidup sejati dan kekal di dunia yang baru, yakni kerajaan Allah.
28 Oktober
Renungan:
Benih sabda kerajaan Allah tumbuh subur dalam diri Simon dan Yudas. Sewaktu mereka menggabungkan diri dengan Yesus, Simon termasuk gerakan bawah tanah yang ingin menyingkirkan kekuasaan Roma sedangkan Yudas melihat Yesus sebagai calon penguasa negeri. Meski berbeda dalam pandangan, keduanya sama-sama mempercayakan diri kepada Yesus Sang Mesias sejati. Dan mereka mengikuti-Nya hingga Ia wafat. “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan BapaKu akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Sabda kebenaran ini berlaku untuk semua pengikut Yesus.
29 Oktober
"Menjadi Pelayan dan Rasul Yesus Kristus"
Santo Paulus, rasul agung segala bangsa, mengatakan bahwa orang-orang yang hidup tak bercela di hadapan Allah adalah laksana bintang-bintang yang menerangi alam semesta. Banyak dari antara para pengikut Kristus yang rela mempersembahkan hidupnya sebagai martir demi iman kepada Kristus dan perkembangan kerajaan-Nya.
Renungan:
"Tahun Santo Paulus" 28 Juni 2008 - 29 Juni 2009 dicanangkan Bapa Suci Benediktus XVI sebagai peringatan 2000 tahun kelahiran Rasul Paulus. Berkenaan dengan itu, pada Hari Minggu Misi Sedunia Ke-82 tahun 2008, Paus menawarkan kepada kita untuk mencermati semangat misioner Rasul Paulus sebagai contoh bagi kita dalam mewartakan Injil. Beliau menyegarkan kembali panggilan misioner kita melalui pesannya, "Menjadi Pelayan dan Rasul Yesus Kristus". Bapa Suci mengatakan, “Saudara-saudara terkasih, seperti pada masa awal, sekarang ini pun Kristus membutuhkan rasul-rasul yang siap sedia mengorbankan dirinya. Kristus membutuhkan saksi dan martir seperti St Paulus." Sebab itu, baiklah kita berdoa, "Allah Bapa yang Mahakasih, Engkau telah memanggil kami untuk menjadi pelayan dan rasul Yesus Kristus, PutraMu, seperti Santo Paulus, rasul agung segala bangsa. Semoga kami dapat meneladan dia, membaktikan diri sepenuhnya bagi kemuliaan nama-Mu, berani memberitakan Injil kepada semua orang, terlebih kepada orang-orang yang telah kehilangan imannya dan yang belum mengenal Engkau. Demi Yesus Kristus, PutraMu, Tuhan dan Pengantara kami. Amin."
30 Oktober
Marcellus dilahirkan di Arzas, Galicia. Ia menikah dengan Nona dan dikarunia 12 anak. Besama seluruh keluarganya Marcellus bertobat dan dibaptis menjadi Kristen. Pada tahun 298, diselenggarakan pesta ulangtahun Kaisar Maximian Herculeus. Marcellus, sebagai seorang senturion Romawi yang bertugas di Tangier, Afrika, diundang serta. Ketika tiba upacara korban kafir untuk memuja kaisar dan dewa-dewa, Marcellus menolak serta. Dengan tegas ia mengatakan, “Aku hanya mengabdi kepada Raja Abadi, yakni Yesus Kristus.” Karena perkataannya ini, ia langsung ditangkap dan dihukum pancung pada tanggal 30 Oktober 298. Sekretaris pengadilan, yaitu Kasianus, mendengar kesaksian Marcellus dan menolak mencatat hukuman; Kasianus juga mengaku Kristen sehingga akhirnya ia pun wafat sebagai martir pada tanggal 3 Desember. Keduabelas anak Marcellus mengikuti teladan ayah mereka, dan semuanya wafat sebagai martir demi membela Injil.
Renungan:
Iman akan Yesus Kristus telah menghantar St Marcellus dan anak-anaknya kepada kerajaan Kristus. “Aku hanya mengabdi kepada Tuhan Yesus Kristus.” Kesaksian yang sama digemakan oleh Gereja kudus sepanjang masa. Tahun 1920 dimulailah karya misioner Gereja di Todabelu Bajawa - Ngada, Flores. Sesudah diadakan persiapan oleh para mantan misionaris dari Togo - Afrika, dimulailah perang antara terang Kristus dan kegelapan animisme. Salah satu berkat besar untuk masyarakat Flores berkat agama Katolik ialah kriminalitas atau tindakan pidana dan kejahatan-kejahatan lain jarang terjadi. Kita dapat berkata dengan hati penuh syukur atas jasa-jasa para misionaris kita, “Maka kamu akan bercahaya di antara mereka laksana bintang-bintang yang menyinari dunia.” Ya Tuhan jadikanlah aku terang dunia!
Sumber: “Ziarah Iman Pastor Jan Lali SVD, Renungan Harian Bersama Para Kudus Sepanjang Tahun”; diterbitkan oleh Penerbit Buku Sabda, Yayasan Sabda Bahagia; Jakarta 2005; tambahan dan edit oleh YESAYA: yesaya.indocell.net
Tidak ada komentar:
Posting Komentar