Kamis, 25 Desember 2014

Iman Sejarah

Secara pengertian sempitnya demikian, tetapi pengertian luas dan mendalamnya harus dipahami dengan benar. Kegagalan memahami pengertian tersebut bisa mengakibatkan kegagalan memperoleh keselamatan. Kesalahan banyak orang Kristen selama ini beranggapan bahwa dengan memercayai fakta sejarah bahwa Allah Anak sudah menjadi manusia untuk memikul dosa maka secara otomatis telah dibebaskan dari dosa. Percaya seperti ini bukanlah percaya yang benar. Ini bukan percaya kepada Tuhan, tetapi hanya percaya kepada sejarah mengenai Tuhan Yesus; iman sejarah. Betapa dangkal pengertian orang yang merasa sudah percaya kepada Tuhan hanya karena percaya kepada sebuah sejarah. 

Betapa jahatnya orang yang mengajarkan bahwa dengan percaya seperti ini berarti sudah menjadi umat Tuhan yang memiliki keselamatan. Sejatinya, tidak cukup hanya setuju terhadap pernyataan Alkitab bahwa Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa, tetapi harus mengerti apa dosa itu, bagaimana proses keselamatan itu berlangsung dan bagaimana terlibat memberi diri dimerdekakan dari dosa. Dosa berarti meleset dari kesempurnaan atau hidup tidak sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini bukan hanya menyangkut perbuatan yang salah yang melanggar norma etika umum, tetapi keadaan manusia yang tidak sesuai dengan rancangan semula Allah. 

Keadaan yang tidak sesuai dengan rancangan semula ini membuat manusia tidak sanggup melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan; kecenderungan hatinya melakukan apa yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Oleh karena hal inilah Tuhan Yesus datang untuk membuat perubahan. Perubahan dalam diri seseorang itulah wujud nyata keselamatan. Jadi kalau ada orang Kristen yang keadaan hidupnya tidak berubah, yaitu semakin memiliki karakter sesuai dengan rancangan Allah semula, berarti ia belum selamat. Itulah sebabnya menjadi pekerjaan berat dan sepanjang umur hidup ini untuk belajar mengerti bagaimana rancangan Allah semula dan bertumbuh terus menuju kehidupan seperti yang dikehendaki oleh Allah. 

Hal inilah yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Surga. Tanpa usaha yang serius seseorang tidak akan selamat. Alkitab jelas mengatakan “yang percaya kepada-Nya” beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Percaya di sini bukan hanya percaya keberadaan atau sejarah kehidupan Tuhan Yesus yang ditulis dalam Injil, tetapi melakukan kehendak Bapa. Dalam Matius 7:21-23 mereka yang memanggil nama Yesus sebagai Tuhan harus melakukan kehendak Bapa, jika tidak maka ia belum dihisapkan sebagai orang percaya. Percaya berarti menyerahkan diri kepada obyek yang dipercaya (Yun. pisteuo). Kalau seseorang percaya kepada Tuhan Yesus berarti harus mau menerima ajakan Tuhan Yesus menjadi anak-anak Allah supaya Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:28-29). 

Menjadi anak Allah berarti melakukan kehendak Bapa. Tuhan Yesus tidak menerima orang yang mengaku percaya tetapi tidak berkelakuan seperti diri-Nya. Tuhan Yesus mengatakan bahwa saudara-saudara-Nya adalah orang yang mendengar Firman Tuhan dan melakukan Firman itu atau menjadi pelaku Firman atau pelaku kehendak Allah (Luk. 8:21). Untuk menjadi anggota keluarga Allah, sesorang harus melakukan kehendak Allah. 

Tanpa syarat ini seseorang tidak akan menjadi anggota Kerajaan Allah. Syarat ini bukanlah bernilai suatu jasa, tetapi sebagai “respon” terhadap anugerah. Amin (truth) Tuhan Yesus Meberkati.


Senin, 22 Desember 2014

Apa itu Youth Ministry Initiative dan WarungSateKamu

Youth Ministry Initiative (YMI) rindu menjangkau anak-anak muda, antara usia 13-25 dari seluruh dunia. WarungSateKamu (Warung Saat Teduh Kaum Muda) adalah wadah interaktif penuh inspirasi dari YMI bagi kaum muda berbahasa Indonesia, baik yang ada di dalam maupun di luar negeri.

Kami bertujuan untuk:

  1. Menantang kaum muda yang punya kerinduan untuk menjangkau rekan muda mereka dengan memberitakan firman Tuhan melalui berbagai media seperti musik, tulisan, desain grafis, dll. Kami mengundang seluruh kaum muda Kristen untuk menjadi kontributor yang mengisi situs ini.
  2. Mendorong anak-anak muda untuk memberitakan firman Tuhan kepada teman-temannya dengan berbagi apa yang menjadi isi dari situs ini melalui beragam media yang tersedia.

Kami menerima karya tulis yang mengandung sudut pandang Alkitabiah dengan pesan yang relevan bagi masa kini dan isi yang menarik serta membangun iman.

Format

Panjang maksimal yang kami tampilkan adalah 1000 kata untuk artikel esai, dan 300 kata untuk puisi. Cerita pendek jangan melewati 3000 kata, dan artikel ulasan maksimal berjumlah 500 kata. Kalau kamu punya gambar, foto atau video yang berhubungan dengan artikelnya, kirimkan juga kepada kami.

Ilustrasi, foto dan cerita komik harus memenuhi ukuran maksimum yaitu 20 x 25 cm dalam satu halaman. Kamu bisa kirim karyamu yang berwarna maupun yang hitam-putih. Kirimkan karyamu via e-mail: kirim@warungsatekamu.org

Topik apa yang bisa ditulis?

Kami senang menerima karya-karya seperti cerita pendek, esai, puisi, ulasan (review) tentang buku/lagu/film/olahraga/video games dan gambar komik yang dibuat oleh anak-anak muda Kristen (usia 13-25 tahun).

Karyamu haruslah dijiwai oleh nilai-nilai Kristen seperti: kebenaran, kejujuran, kerendahan hati, kasih, kebaikan, kesetiaan, kesucian, keberanian, pelayanan, ketaatan, sikap hormat pada orangtua, penghargaan terhadap hidup dan ciptaan, serta kedaulatan Allah atas segalanya.


Tanggapan yang diharapkan timbul dari karyamu itu adalah:

  • Komitmen kepada Allah
  • Kasih kepada Allah dan sesama
  • Melayani Allah dan sesama
  • Penyerahan diri dalam doa

Apa saja yang bikin sebuah artikel itu menarik?

  1. Ada kalimat pembuka yang menangkap perhatian pembaca dan seakan-akan bilang “BACA INI NIH!”
  2. Ada kisah ilustrasi dan prinsip Alkitabiah yang kuat sehingga tepat kena sasaran yaitu hati dan pikiran pembaca.
  3. Ada suatu kesimpulan yang tajam sehingga pembaca bisa tersentuh dan bahkan digerakkan oleh maksud artikel.

Cukup jelas kan? Masalahnya, bagaimana caranya kita menghasilkan semua itu??

Nah, ini ada beberapa saran:

  • Berdoa! Minta pertolongan Tuhan (cerita yang menarik tidak pasti menjadi artikel yang baik).
  • Buatlah kalimat-kalimat awal dan akhir yang pendek, kuat dan menarik! Semakin panjang kalimatnya, semakin berkurang daya tarik dari kalimat itu. (Prinsip ini berlaku juga untuk sebuah artikel. Sebisa mungkin buatlah yang singkat, padat dan jelas).
  • Bayangkan kalau kamu yang membacanya. Apa yang bisa kamu dapatkan dari artikelnya?
  • Usahakan memusatkan tulisanmu pada satu tema saja dan cobalah menyatakannya dengan jelas kepada para pembaca.
  • Gunakan cerita/ilustrasi/analogi yang cukup dikenal dan bisa dirasakan oleh para pembaca.
  • Pakailah kata-kata yang ‘mendarat’ dan bisa dimengerti oleh orang banyak (jangan menggunakan kata-kata dan istilah yang terlalu ‘berat’)

Akhir kata, kami tunggu karya-karyamu yang memuliakan Tuhan dan memberkati rekan-rekan muda… Jadi, terus berkarya OK!

PS. Setiap karya yang dikirimkan akan mengalami proses penyuntingan (editing) dengan tidak mengurangi nilai artistik dan makna orisinilnya.

Mau memberi komentar pada blog ini? Baca dulu ya Tata Tertib Cara Berkomentar

Yang Paling Utama Dan Berarti

2 Korintus 9:10-15
Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! —2 Korintus 9:15
Ketika anak-anak kami masih tinggal bersama kami, kami suka merayakan Natal di pagi hari dengan sebuah tradisi keluarga yang sederhana tetapi sangat berkesan. Kami sekeluarga berkumpul di sekeliling pohon Natal, di antara bungkusan-bungkusan hadiah yang akan kami berikan kepada satu sama lain. Di sana kami lalu membaca kisah Natal bersama. Hal tersebut sangat berguna untuk mengingatkan bahwa alasan kami untuk bertukar hadiah bukanlah karena para Majus datang membawa hadiah untuk bayi Kristus. Namun hadiah yang kami berikan kepada setiap anggota keluarga dalam kasih itu merupakan cerminan dari Hadiah yang jauh lebih indah dan agung yang diberikan Allah kepada kita dalam kasih.

Ketika kami menceritakan ulang kisah yang tidak asing lagi tentang para malaikat, gembala, dan palungan, kami mempunyai harapan agar karya Allah yang besar pada Natal pertama itu akan menjadi lebih utama daripada upaya kita yang terbaik sekalipun untuk menyatakan kasih kita kepada satu sama lain.

Tidak ada satu hal pun yang dapat menandingi hadiah yang telah Allah berikan kepada kita di dalam diri Anak-Nya. Inilah realitas yang digemakan Paulus lewat suratnya kepada jemaat di Korintus, “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!” (2Kor. 9:15).

Jelaslah, kerelaan Allah dalam mengutus Anak-Nya untuk menjadi Juruselamat kita merupakan suatu hadiah yang tidak terungkapkan dengan kata-kata. Itulah hadiah yang kita rayakan di hari Natal—karena Kristus sendirilah yang paling utama dan berarti.

Oh, sungguh sederhana tempat kelahiran-Nya,
Tetapi besarlah yang Allah beri hari itu pada kita;
Dari palungan terbukalah jalan ke surga,
Jalan yang amat kudus dan sempurna! —Yohanes 14:6
Kristuslah hadiah Natal terbaik yang pernah diberikan. Amin Tuhan Yesus Memberkati Shalom.

Kamis, 18 Desember 2014

Harapan Untuk Terus Melangkah

Harapan Untuk Terus Melangkah
Anne Cetas
Ratapan 3:19-33
Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! ––Ratapan 3:22-23
Sebuah pesawat udara bertenaga surya yang dinamai “Solar Impulse” dapat terbang siang-malam tanpa bahan bakar. Para penemunya, Bertrand Piccard dan André Borschberg, berharap dapat menerbangkan pesawat itu keliling dunia pada tahun 2015. Sembari terbang di sepanjang siang dengan menggunakan tenaga surya, pesawat itu juga mengumpulkan cukup banyak tenaga yang memampukannya untuk dapat terbang sepanjang malam. Ketika matahari terbit di hari berikutnya, Piccard berkata, “Fajar selalu membawa kembali harapan baru yang mendorong kami untuk bisa melanjutkan perjalanan.”

Pemikiran tentang fajar yang membawa harapan baru bagi kita membuat saya terpikir tentang Ratapan 3 yang merupakan bacaan Alkitab hari ini, “Hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (ay.21-23). Meskipun umat Allah begitu merasa putus asa ketika kota Yerusalem diserang oleh pasukan Babel, Nabi Yeremia berkata bahwa mereka tetap memiliki alasan untuk berharap—mereka masih menerima kasih setia dan rahmat Tuhan.

Terkadang pergumulan kita terasa semakin sulit di tengah gelapnya malam. Akan tetapi, ketika fajar tiba, terbit harapan baru yang memampukan kita untuk terus melangkah. “Sepanjang malam ada tangisan,” kata pemazmur, “menjelang pagi terdengar sorak-sorai” (Mzm. 30:6).

Terima kasih, Tuhan, untuk pengharapan yang Engkau berikan setiap kali fajar menyingsing. Kasih setia dan rahmat-Mu selalu baru setiap pagi!

Kemurahan baru setiap pagi,
Anugerah untuk setiap hari,
Harapan baru untuk setiap cobaan,
Dan keberanian untuk terus melangkah. —McVeigh
Setiap hari yang baru memberikan kepada kita alasan yang baru untuk memuji Tuhan.
Mazmur 140–142
1 Korintus 14:1-20

Senin, 15 Desember 2014

Iman Kristen Menjadi Rawan

Tidak heran kalau ada yang mencoba meramalkan hari kedatangan Tuhan atau hari kiamat. Padahal dengan jelas Tuhan Yesus memberitahukan bahwa tidak seorang pun tahu kapan saat kedatangan Tuhan. Ia datang seperti pencuri pada malam hari. Adalah bodoh kalau ada orang yang masih mencoba menghitung-hitung hari kedatangan-Nya. 

Oleh sebab itu hendaknya orang percaya menolak kalau ada orang yang menunjukkan hari kedatangan Tuhan atau hari kiamat tersebut. Itu pasti itu sesat. Kalau berbicara mengenai akhir zaman, yang juga harus diperhatikan adalah suasana dunia akhir zaman yang membuat iman Kristen menjadi rawan. Ketika Alkitab berbicara mengenai akhir zaman, yang ditekankan bukan hari, saat atau waktu kedatangan-Nya, tetapi “ suasana” menjelang kedatangan-Nya tersebut. Suasana yang dimaksud di sini adalah bahwa menjelang kedatangan Tuhan, dunia dibawa kepada “suasana” yang sangat khusus. Sangat khusus di sini maksudnya adalah dunia dan suasananya bertambah jahat. 

Hal inilah yang memberi pengaruh berbahaya bagi kita orang percaya. Iblis tentu tahu bahwa petualangannya di bumi ini akan segera diakhiri oleh Tuhan, sebab tanda-tanda akhir zaman sudah semakin jelas yaitu adanya konflik antar bangsa atau perang, kelaparan, gempa bumi dan lain sebagainya. Itulah sebabnya Iblis berusaha bekerja keras di sisa waktu yang ada untuk menarik sebanyak mungkin manusia ikut masuk ke dalam kegelapan abadi atau api kekal neraka. 

Itulah sebabnya di akhir zaman ini suasana dunia menjadi semakin jahat. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari pekerjaan Iblis yang sangat cerdik dan jahat. Berkenaan dengan hal ini Tuhan Yesus mengingatkan bahwa Iblis berjalan keliling seperti singa dan berusaha menelan siapa saja yang dapat ditelannya. Orang percaya harus melawannya dengan iman yang teguh (1Ptr. 5:8-9). Dengan kondisi dunia seperti tersebut di atas, maka iman Kristen menjadi lebih rawan. 

Kerawanan ini harus disadari oleh orang percaya. Jadi sangatlah beralasan kalau Petrus menasihati agar orang percaya melawan Iblis yang berjalan keliling seperti singa dengan iman yang teguh. “Melawan dengan iman yang teguh” dalam teks aslinya adalah ho antistete stereoi te pistei (ᾧ ἀντίστητε στερεοὶ τῇ πίστει) yang artinya berusaha untuk menolak atau melawan dengan iman yang kokoh atau teguh. Hal ini menunjukkan bahwa melawan Iblis harus dengan sangat serius mengerahkan seluruh kekuatan yang kemampuan yang ada. 

Dari tulisan Petrus tersebut ditunjukkan bahwa Iblis bukanlah musuh yang bisa dianggap ringan. Selanjutnya Petrus juga mengatakan bahwa semua saudara seiman di seluruh dunia juga mengalami penderitaan yang sama. Kata penderitaan dalam 1Petrus 5:9 adalah pathema (πάθημα) yang artinya sesuatu yang menyakitkan. Dalam terjemahan bahasa Inggris diterjemahkan suffering. Dunia akhir zaman yang tiada henti memengaruhi orang percaya agar menjadi fasik. 

Hal ini benar-benar akan berdampak buruk bagi mereka yang tidak berani dengan tegas menolaknya atau melawannya. Tetapi kalau orang percaya melawan dengan iman yang teguh maka orang tersebut akan tampil sebagai pemenang. Inilah yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah agar kita menjadi pemenang, artinya di tengah dunia yang gelap dengan pengaruhnya yang jahat orang percaya memiliki integritas yang kuat, sehingga tidak terpengaruhi oleh keadaan dunia yang jahat ini. 

Terkait dengan hal ini hendaknya orang percaya tidak menjadi termometer tetapi termostat. Orang percaya bukan dipengaruhi dunia tetapi memengaruhi dunia. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom.


Minggu, 14 Desember 2014

Tawanan Iblis Atau Tawanan Roh Allah

Iblis menghendaki agar manusia hidup dalam penguasaannya. Penguasaannya di sini maksudnya adalah: suatu pemilikan dari roh-roh jahat atas diri seseorang yang dikuasainya, meskipun pada tingkat yang sangat kecil. Dari penguasaan pada tingkat kecil akhirnya akan menjadi penguasaan seluruh kehidupan; seperti sarang laba-laba. Dalam tingkat tertentu apabila seseorang dalam pemilikan kuasa kegelapan ia dapat kehilangan kebebasannya sama sekali, sehingga menjadi tawanan kuasa kegelapan. Firman Tuhan menasihatkan agar orang percaya membuang segala sesuatu yang jahat dan tidak kudus (1Ptr. 2:1). Dalam hal ini yang harus membuang segala sesuatu yang jahat adalah diri orang percaya itu sendiri dengan sengaja dan sadar. Hal ini sebenarnya sama dengan yang dikatakan Paulus sebagai “menanggalkan manusia lama dan nafsu yang menyesatkan” (Ef. 4:22). 

Yang harus menanggalkan manusia lama dan nafsunya adalah diri orang percaya itu sendiri. Selanjutnya orang percaya tidak boleh memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4:27). Kata “ kesempatan” dalam teks aslinya adalah topon (τόπον). Kata topon dapat diterjemahkan tempat (Ing. place). Kata ini juga bisa diterjemahkan sebagai “tempat berpijak” (Ing. a foothold). Tempat berpijak di sini memiliki pengertian yang sama dengan pangkalan atau landasan. Keinginan daging yang dilestarikan dan penyesatan kebenaran merupakan landasan Iblis mencengkeram hidup seseorang dan mengambil alih seluruh kebebasannya. Orang yang memberi pangkalan bagi Iblis akan menghasilkan buah-buah daging. Sampai pada level ini seseorang menjadi tawanan Iblis. Dalam kenyataannya banyak orang Kristen yang menjadi tawanan tetapi mereka tidak menyadari keadaan mereka tersebut. Menjadi tawanan Iblis bukan berarti hidupnya dalam kebejatan moral, tetapi ketika seseorang tidak hidup sesuai keinginan Tuhan. 

Dalam proses pendewasaan, Tuhan melalui Roh Kudus menuntun orang percaya agar menguasai seluruh wilayah hidup untuk dipersembahkan bagi Tuhan. Menguasai seluruh wilayah hidup maksudnya adalah orang percaya mampu mengontrol tubuh, jiwa dan roh dengan seksama. Inilah yang menjadi kehendak Allah agar orang percaya mampu mengontrol kehendak diri yaitu seluruh tubuh, jiwa dan rohnya dengan baik. Orang percaya mengendalikan dan mengontrol dirinya dengan seksama untuk hidup seturut kehendak Allah. Penguasaan diri untuk hidup seturut Firman Tuhan atau hidup dalam ketaatan dalam tingkat tertentu, membuat seseorang dapat menjadi seorang yang berstatus sebagai tawanan Roh. Hal ini terjadi atas kehendaknya sendiri dengan rela, bukan atas dasar kedaulatan Allah yang menguasai diri seseorang sehingga menghilangkan kehendak bebasnya. 

Pembiasaan menuruti kehendak Tuhan ini akan membuat irama penurutan tersebut menjadi permanen dalam kehidupan seorang anak Tuhan (Kis. 20:22). Aspek lain, pembiasaan diri menuruti kehendak Allah melalui penyangkalan diri terus menerus juga akan membuahkan buah-buah roh. Firman Tuhan tegas sekali mengatakan bahwa kalau seseorang memberi diri dipimpin oleh Roh Allah akan menghasilkan buah-buah roh (Gal. 5:21- 22). Pada level ini seseorang dapat semakin menjadi tawanan Roh sehingga Iblis tidak akan dapat menguasainya sama sekali. 

Demikianlah pada dasarnya manusia diperhadapkan kepada pilihan, apakah menjadi tawanan Iblis atau tawanan Roh Allah. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalim.


Sabtu, 13 Desember 2014

Hak Hidup


Orang yang berpikir bahwa Allah tidak berhak atas hidupnya akan nampak dari sikap hidupnya yang mengingini segala sesuatu untuk kepuasan dirinya (Yak. 4:1-4). 

Orang-orang seperti ini berarti bersahabat dengan dunia. Mereka adalah orang-orang yang berkhianat kepada Tuhan. Dunia adalah umpan yang digunakan Iblis untuk menjerat manusia agar tidak berbakti kepada Allah (Luk. 4:5-8). Kenyataan hari ini banyak orang merasa berhak memiliki hidupnya dan menaruh berbagai keinginan dalam dirinya tanpa memedulikan Tuhan yang memiliki kehidupan ini. Satu hal yang paling sering dilupakan oleh manusia adalah sejatinya kita berasal dari ketiadaan. Allahlah yang mengadakannya dengan menghadirkan seorang pribadi yaitu “kita”. Hal ini harus selalu diingat bahwa kita ada dari tidak ada (creatio ex nihilo). Dengan ini kita bisa mengerti bahwa sebenarnya kita tidak berhak memiliki hak hidup. Hidup yang kita miliki adalah milik Tuhan yang mengadakannya. 

Jika kita sungguh-sungguh menghayati hal ini maka kita tidak akan berkeberatan untuk hidup di dalam kehendak dan rencana-Nya secara mutlak. Selanjutnya, dalam penciptaan atas kita masing-masing Allah pasti memiliki agenda. Agenda Tuhan itulah yang seharusnya kita pedulikan dengan serius, dan kita tidak boleh memiliki agenda sendiri. Orang yang mengumbar segala keinginan dalam dirinya adalah orang yang merasa berhak memiliki agenda sendiri. Orang seperti ini sebenarnya berstatus pemberontak. Hidup di dunia hanya dipenuhi dengan segala kegiatan yang berasal dari agendanya sendiri. 

Kita harus sadar bahwa kita sebenarnya tidak berhak ada. Kalau kita bisa mengadakan diri kita sendiri, maka kita berhak memiliki keinginan sesuka kita sendiri tetapi ternyata kita tidak bisa membuat diri kita ada. Tuhan yang mengadakannya, maka Tuhanlah yang seharusnya berhak sepenuhnya atas diri kita. Maka kita harus berani berkata dengan tegas: God doesn’t exist for me, I exist for The Lord. Orang percaya yang benar akan berusaha untuk belajar tidak berhak memiliki suatu keinginan. Segala keinginannya haruslah sesuai dengan kehendak Bapa. Orang percaya yang benar akan berkata kepada Bapa: Bukan kehendakku yang jadi tetapi kehendak-Mu lah yang jadi. Bukan kerajaanku yang datang tetapi kerajaan-Mu. Kehendak-Mu yang jadi di bumi seperti di surga. Manusia yang ditebus oleh darah Tuhan Yesus tidak berhak memiliki spirit atau gairah kecuali spirit atau gairah yang dimiliki oleh Tuhan Yesus Kristus. 

Tubuh yang kita hidupi ini haruslah tubuh yang digerakkan oleh gairah atau spirit yang dimiliki oleh Tuhan Yesus (Gal. 2:19-20). Jika kita menghadirkan gairah Anak Alah dalam diri kita yaitu menyerap semangat hidup-Nya, maka kita menghadirkan Dia dalam hidup. Tetapi sebaliknya jika tidak, maka berarti kita tidak menganggap Dia ada. Kita meniadakan Dia dalam hidup ini. Itulah sebabnya bagi orang yang sungguh-sungguh mau melayani kehendak Tuhan, Tuhan menjadi sangat riil baginya, tetapi bagi mereka yang tidak mau melayani kehendak-Nya, Tuhan seperti tidak ada. Tuhan Yesus pernah dicobai Iblis agar memiliki spirit yang salah yaitu spirit dunia. 

Iblis menunjukkan keindahan dunia untuk menjerat Tuhan Yesus. Tuhan Yesus digoda untuk mengingini keindahan dunia, tetapi Tuhan Yesus menolak. Penolakan ini berarti Ia tidak mau menyembah Iblis. Seperti Dia menang kita juga harus memang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus disebut sebagai pokok keselamatan yang menjadi teladan bagi kita (Ibr. 5:7-9). 

Dalam hal ini kita mengerti mengapa kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Fil. 2:5-7). Memiliki pikiran dan perasaan Kristus berarti kita hidup di dalam gairah-Nya. Amin ( truth) Tuhan Yesus Meberkati Shalom.

Kamis, 11 Desember 2014

HANYA PRIORITASKAN TUHAN

Baca:  Matius 6:25-34

"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."  Matius 6:33

Banyak orang Kristen bertanya-tanya dalam hati,  "Kalau kita mengikut Tuhan, katanya hidup kita akan diberkati, apa saja dibuat-Nya berhasil, semua usaha akan lancar dan kita akan terbebas dari masalah.  Namun mengapa tidak demikian?"  Adalah benar bila hidup di dalam Tuhan itu selalu ada berkat, perlindungan dan juga jaminan pemeliharaan karena ada penyertaan Tuhan di setiap langkah hidup kita.  Inilah janji Tuhan,  "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  (Ibrani 13:5b). 

 Tapi adakalanya dalam perjalanan hidup ini kita diperhadapkan dengan jalan yang berbatu, penuh cadas dan mendaki, ada masalah dan juga ujian.  Namun yakinlah bahwa semuanya adalah bagian dari proses yang harus kita jalani. 

 "Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu."  (1 Korintus 10:13b).  Tuhan selalu buka jalan saat tiada jalan, tangan-Nya selalu menopang kita saat jatuh sehingga kita tidak sampai tergeletak  (baca  Mazmur 37:24).

     Agar janji berkat pertolongan, pemeliharaan dan pembelaan Tuhan benar-benar digenapi dalam hidup ini ada harga yang harus kita bayar, yaitu  "...carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."  (ayat nas).  Kata mencari menunjuk kepada usaha yang dilakukan dengan sungguh dan secara terus-menerus sampai mendapatkan sesuatu.  

Artinya kita harus menempatkan Tuhan Yesus sebagai yang terutama dalam hidup ini;  mengejar perkara-perkara rohani lebih daripada perkara-perkara yang ada di dunia.  Rasul Paulus pun menasihati,  "...carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi."  (Kolose 3:1-2).  

Melalui pertolongan Roh Kudus kita berusaha menaati perintah Tuhan.  Jika kita melakukan apa yang diperintahkan Tuhan ini, tidak ada alasan bagi kita untuk merasa kuatir dan cemas akan kebutuhan kita sebab semuanya pasti akan disediakan Tuhan.

     Sudahkah kita memperhatikan jam-jam doa, menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan firman-Nya, tekun beribadah serta melayani Dia sepenuh hati?

Bila kita belum melakukan itu artinya kita belum memprioritaskan Tuhan. Amin tuhan Yesus Memberkati..


Rabu, 10 Desember 2014

Hutang Nyawa Dibayar Nyawa

KESELAMATAN yang kita terima dari Tuhan membuat kita berhutang kepada Tuhan. Hutang uang harus dibayar uang, tetapi hutang nyawa harus dibayar nyawa. Hanya dengan membayar nyawa yang dapat mengimbangi kebaikan yang Tuhan telah berikan kepada kita. 

Bagaimana kita memberikan nyawa kita kepada Tuhan? Memberikan nyawa bukan saja berarti menjadi martir; mati demi Kristus seperti orang-orang Kristen pada masa aniaya, tetapi juga hidup bagi Kristus. Mati bagi Kristus membutuhkan keberanian, tetapi hidup bagi Kristus membutuhkan kenekatan. Menyerahkan nyawa inilah yang sebenarnya sama dengan hidup bagi Tuhan. 

Kalau pada masa aniaya orang percaya menyerahkan nyawa bagi Tuhan dengan berani mati bagi Tuhan, tetapi untuk masa sekarang menyerahkan nyawa berarti hidup bagi Tuhan. Untuk bersedia memberikan nyawa bagi Tuhan, kita harus memiliki kesadaran bahwa sebenarnya kita tidak berhak hidup. Manusia berdosa adalah manusia yang hidup di bawah bayang-bayang maut. Hidup di bumi yang sementara ini hanya menunggu saat masuk api kekal. Suatu kengerian yang dahsyat dimana manusia terpisah dari hadirat Tuhan selama-lamanya. 

Kehidupan seperti ini adalah kehidupan tanpa pengharapan. Sungguh-sungguh sangat tragis. Kalau oleh pengorbanan-Nya di kayu salib Tuhan memperkenan kita memiliki kehidupan di balik kubur yaitu di langit baru dan bumi baru nanti, ini adalah sungguh suatu anugerah yang tidak ternilai. Sekarang oleh anugerah-Nya kita memiliki hidup yang penuh pengharapan ( 1Ptr. 1: 3-4). Oleh sebab itu patutlah hidup yang kita miliki hari ini kita dikembalikan kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita. Banyak orang Kristen tidak menghayati anugerah Tuhan ini dengan benar. Oleh karenannya mereka tidak memiliki kerinduan untuk membalas kebaikan Tuhan dan tidak menempatkan diri secara benar di hadapan Tuhan. 

Sikap mereka pun tidak pantas terhadap Tuhan yang sudah memberikan kebaikan begitu besar. Jadi kalau dari sikap seseorang terhadap Tuhan menunjukkan seberapa ia menyadari nilai kasih karunia yang Tuhan berikan. Orang orang seperti ini pasti tidak memikirkan dengan serius realitas kekekalan. Ia tidak memikirkan dengan serius keadaan kekalnya nanti dan keadaan kekal orang lain. Inilah orang yang tidak mengasihi dirinya sendiri dan tidak mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Orang seperti ini juga tidak mengasihi Tuhan yang telah mengasihi dirinya. 

Kalau selama ini kita tidak pernah memikirkan hal ini, sekarang kita harus memikirkannya dengan serius. Sebab kalau tidak sejak dini memikirkan dengan serius hal ini, maka suatu saat tidak mampu lagi memercayai realitas kekekalan yang dahsyat ini. Mereka juga tidak menghargai keselamatan yang sangat berharga. Banyak orang yang tidak mampu lagi memercayai realitas ini. Hal tersebut nampak dari cara hidupnya yang sembrono, tidak mempersiapkan diri menghadapi penghakiman Allah. Cara hidup yang tidak siap menghadapi penghakiman ditandai dengan tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah dan tidak membela pekerjaan Tuhan dengan segenap hidup. 

Suatu hari nanti orang percaya akan dibawa kepada penghakiman Tuhan. Menyadari hal ini Paulus berusaha untuk hidup berkenan kepada Tuhan Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik atau pun jahat (2Kor. 5:9-10). 

Menyerahkan nyawa untuk zaman kita sekarang berarti hidup bagi Tuhan. Hidup bagi Tuhan berarti rela menanggalkan keinginan diri sendiri. Inilah sebenarnya resiko menjadi anak tebusan Tuhan. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom.


Blog soewarno Almasih: TETAP KUAT SEKALIPUN DALAM LINGKUNGAN YANG BERUPAY...

Blog soewarno Almasih: TETAP KUAT SEKALIPUN DALAM LINGKUNGAN YANG BERUPAY...: Kita berada pada situasi dan jaman yang tidak mudah! Orang-orang yang berada disekitar anda mungkin adalah tipe orang seperti yang dikatakan...

MENARIK DIRI

Teks Ibrani 12:16-17 ditulis supaya orang percaya tidak bertindak bodoh seperti Esau. 

Hak kesulungan secara “de jure” telah dimiliki, tetapi kalau tidak meningkatkan diri berkapasitas sebagai pewaris hak sulung maka bisa kehilangan hak kesulungan. 

Dalam hal ini orang percaya harus secara de facto berkapasitas sebagai anak-anak Allah. Harus diingat bahwa mereka yang diterima oleh Tuhan masuk Kerajaan Surga adalah mereka yang dikenal oleh Allah. Dikenal di sini artinya bisa dinikmati oleh Allah (ginosko;γινώσκω) (Mat. 7:21-23). 

Menjadi pertanyaan yang harus bisa dijawab mulai sekarang, apakah kehidupan kita bisa dinikmati oleh Allah. 

Hanya orang-orang yang memiliki kehidupan yang mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah yang dapat dinikmati oleh Allah. Inilah ciri seorang anak yang sah sebagai anak Allah. Dengan menjadikan kisah Esau dan Yakub sebagai gambaran atau analogi kehidupan orang percaya, maka jelaslah bahwa hak kesulungan seseorang bisa hilang. 

Oleh sebab itu hendaknya kita tidak berpikir bahwa iman setiap orang Kristen bersifat permanen. Dalam Ibrani tertulis: “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” (Ibr. 10:38). 

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa ada orang yang mengundurkan diri. Kata mengundurkan dalam teks aslinya adalah huposteileta(ὑποστείλητα) dari akar kata hupostello(ὑποστέλλω) yang memiliki beberapa pengertian antara lain: to draw back (menarik diri) dan avoid (menghindarkan diri). Jadi, oleh kehendaknya sendiri seseorang bisa meninggalkan Tuhan dan bersikap tidak setia. 

Dalam hal ini Tuhan menghendaki agar tetap bertahan sampai akhir, artinya bertumbuh terus sampai mengalami kelahiran baru, yaitu memiliki cara berpikir dan gaya hidup seperti Dia. 

Ketika seseorang menarik diri, berarti ia menolak untuk menjadi anak Allah yang sah. Menarik diri atau mengundurkan diri ini sama maksudnya dengan tidak bersedia berjuang. Hal ini terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen yang merasa bahwa anugerah membuat dirinya bisa selamat tanpa usaha atau respon. 

Seakan-akan semuanya serba gratis. Jika benar demikian maka tentu Tuhan Yesus tidak perlu menghimbau orang percaya untuk berjuang untuk masuk kerjaaan Surga. 

Kebodohan inilah yang membuat banyak orang Kristen gagal mencapai maksud keselamatan diberikan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan semula Allah. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom.


Minggu, 07 Desember 2014

Tindakan Yang Baik Bagi Tuhan

Betania adalah sebuah kota yang terletak 3 km di sebelah Timur Yerusalem, di jalan menuju Yerikho. Sekarang nama kota itu adalah El Azaryie. Betania artinya rumah orang miskin. Tentu nama ini memiliki kaitan dengan latar belakang kota tersebut. Dikatakan sebagai rumah orang miskin, dikarenakan banyak orang miskin tinggal di wilayah tersebut. Tuhan Yesus sering berkunjung ke Betania, bahkan menginap. Hal ini menunjukkan Tuhan Yesus memperhatikan orang-orang miskin. 

Di kota ini juga terjadi peristiwa penting yang tercatat dalam Injil yaitu Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian (Yoh. 11). Di Betania inilah tinggal satu keluarga yang karib dengan Tuhan Yesus yaitu keluarga Marta dan Maria serta saudaranya Lazarus. Pada kesempatan itu Tuhan Yesus datang ke Betania karena diundang oleh Simon si kusta. Alkitab tidak menunjukkan latar belakang Simon ini dengan detail, tetapi yang jelas menurut catatan ia adalah seorang yang pernah disembuhkan atau ditahirkan oleh Tuhan Yesus dari penyakit kustanya. Undangan Simon kepada Tuhan Yesus tersebut merupakan ucapan terima kasih Simon kepada Tuhan Yesus yang telah menyembuhkan dari kustanya. 

Pada perjamuan makan itulah Maria yang suka duduk dekat Tuhan memecahkan leher buli-buli minyak narwastu dan mencurahkannya kepada Tuhan Yesus. Tindakan Maria menuangkan minyak Narwastu yang mahal ke atas kepala Tuhan Yesus adalah suatu tindakan yang tidak lazim dilakukan. Selama itu tidak pernah ada orang yang memperlakukan Tuhan Yesus demikian luar biasa. Ini sebuah tindakan yang dinilai sebagai ekstrim atau tindakan fanatisme yang berlebihan. Karenanya tindakan Maria tersebut dianggap “tidak wajar” menurut pertimbangan orang pada umumnya. Minyak narwastu, dalam bahasa Yunani adalah nardos. Ini adalah minyak wangi yang terbuat dari suatu jenis tanaman di lereng gunung Himalaya, India Utara. Menurut catatan minyak ini tidak mudah diperoleh di wilayah Palestina. 

Bisa dimengerti kalau minyak ini mahal harganya, salah satu barang yang terbilang lux atau mewah. Karena harganya mahal maka pada zaman itu minyak ini sering dipalsukan. Dalam kisah tersebut Maria memberi minyak narwastu yang murni (asli). Ini adalah tindakan yang berani. Tindakan Maria tersebut dianggap sebagai pemborosan oleh orang-orang yang menyaksikannya. Memang minyak narwastu yang dituangkan tersebut bisa seharga 300 dinar lebih. Tiga ratus dinar adalah upah kerja selama hampir setahun. Suatu jumlah uang yang cukup besar. Menurut ahli sejarah, minyak narwastu tersebut kira-kira berisi 3,5 oz. Sikap orang-orang yang tidak membenarkan perbuatan Maria menunjukkan penghargaan mereka yang rendah terhadap Tuhan. 

Mereka beranggapan bahwa Tuhan Yesus tidak layak menerima perlakuan istimewa tersebut. Seakan-akan mereka hendak berkata: Siapa orang ini (Tuhan Yesus) sehingga diperlakukan begitu istimewa dan terhormat? Tetapi tindakan Maria tersebut “berkenan kepada Tuhan Yesus”. Tuhan Yesus membenarkan tindakan Maria dengan mengatakan bahwa Maria melakukan suatu perbuatan yang baik pada Tuhan Yesus sebagai persiapan penguburan-Nya (Mrk. 14:8). 

Tindakan Maria merupakan tindakan yang berkenan di hadapan Tuhan. Peristiwa ini terjadi kira-kira 6 hari sebelum Paskah. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom.


Sabtu, 06 Desember 2014

Kasih Karunia Tuhan Cukup

Minggu, 7 Desember 2014

Bacaan Alkitab hari ini:

Kisah Para Rasul 23

Di hadapan Mahkamah Agama, Rasul Paulus tiba-tiba mengucapkan kalimat yang mengejutkan: “Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah Agama ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati.” Karena sebagian dari anggota Mahkamah Agama adalah orang Farisi yang percaya akan kebangkitan orang mati dan sebagian lagi adalah orang Saduki yang tidak percaya, terjadilah keributan dan perpecahan di Mahkamah Agama (23:6-8).

Ketika Rasul Paulus menegaskan bahwa sampai hari itu dia hidup dengan hati nurani yang murni, Imam Besar menyuruh orang menampar dia (23:1-2). Jelas sekali bahwa Rasul Paulus melihat bahwa dirinya tidak akan diadili dengan benar oleh Mahkamah Agama. Maka dengan cerdik, ia memanfaatkan suasana dan menimbulkan keributan di Mahkamah Agama serta memilih untuk diadili oleh orang Romawi. Betapa perlunya memohon hikmat seperti ini kepada Tuhan. Kita tidak boleh lari dari penderitaan bagi Tuhan, tetapi kita juga tidak perlu menderita karena kebodohan kita.

Tuhan melindungi Rasul Paulus melalui kemenakannya (23:16) serta melalui kepala pasukan Romawi (23:10, 23). Tuhan bahkan memberi kekuatan dengan mendatangi Paulus (23:11). Satu hal yang tidak dilakukan Tuhan adalah membebaskan Paulus dari penjara. Tetapi, di dalam keadaan terbelenggu itulah, penyertaan Tuhan dirasakan dengan luar biasa oleh Rasul Paulus. Tuhan tidak menjanjikan kemudahan, tetapi Tuhan meyakinkan dia bahwa Rasul Paulus akan pergi ke Roma dan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan di Yerusalem: Bersaksi. Kata Yunani untuk “saksi” adalah marturia. Dari kata itulah muncul kata “martir”. Ketika kita menderita karena Tuhan, Tuhan tidak selalu membebaskan kita. Tetapi, penyertaan Tuhan pasti selalu ada. Bukankah itu cara Tuhan? Pernahkah Anda mengalaminya? Renungkanlah ayat di bawah ini. 

2 Korintus 12:9b
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Jumat, 05 Desember 2014

Seluruh Perjalanan Hidup Ini

Hendaknya kita tidak berpikir bahwa awal dan pertengahan perjalanan hidup tidak terlalu penting. Banyak orang berpikir bahwa akhir perjalanan hidup yang menentukan nasib atau keadaan kekal seseorang. Justru mestinya dipahami bahwa awal perjalanan hidup manusia yang akan dominan menentukan arah kehidupan seseorang. Itulah sebabnya pendidikan sejak dini kepada kanak-kanak sangat signifikan menentukan arah perjalanan anak tersebut di hari esoknya. Apa lagi di dunia kita hari ini yang sarat dengan penyesatan melalui berbagai media. Sejak masih kanak-kanak dan remaja melalui berbagai media, pikiran mereka diisi dengan berbagai filosofi hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Sejatinya seluruh waktu yang tersedia adalah kesempatan untuk bersiap-siap bertemu dengan Hakim Agung. Ini berarti setiap saat seseorang harus siap menghadap Tuhan untuk mempertanggungjawabkan seluruh kehidupannya selama di dunia (2Kor. 5:9-10). 

Oleh sebab itu kita harus sungguh-sungguh menghargai waktu karena waktu adalah anugerah yang sangat terbatas. Untuk dapat menghayati betapa berharga nilai waktu, perlu kita mempelajari kata waktu dari bahasa Yunani. Dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang dapat diterjemahkan “waktu” dalam bahasa Indonesia. Pertama, hora (Yun. ώρα). Kata ini menunjuk kepada waktu dalam pengertian durasinya (panjang dan pendeknya, lama dan singkatnya). Kita harus memperhatikan bahwa durasi waktu hidup kita sangat singkat. Karena terbatasnya waktu yang disediakan Tuhan, maka kita harus sungguh-sungguh menghargai waktu yang ada (Yoh. 9:4; Ef. 5:16). 

Dalam durasi ini bisa dibagi dalam beberapa era atau season. Dalam teks aslinya adalah epokhe (εποχή). Dalam pengertian umum biasanya kita mengenal masa kanak-kanak, remaja, pemuda, dewasa muda, tua dan manula. Di setiap masa Tuhan mengerti bagaimana memproses seseorang untuk menjadi sempurna seperti Dia. Kata kedua adalah kronos (Yun. χρόνος). Kronos artinya waktu dalam pengertian urut-urutannya. Kata ini menjadi kronologi dalam bahasa Indonesia. Dalam kebijaksanaan Tuhan, Tuhan telah merancang segala sesuatu indah. Rancangan Tuhan Tuhan tersebut seperti kurikulum mahasiswa yang dirancang agar mahasiswa dapat menjadi lulusan yang berkualitas. Tuhan mendisain banyak pertistiwa secara berurutan sempurna setiap hari untuk mendewasakan orang percaya. Dalam hal ini nyata bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang percaya (Rm. 8:28). 

Sedangkan kata yang ketiga adalah kairos (Yun. καιρός). Kairos berarti momentum. Ada saat-saat yang berharga dan sangat berarti dalam kehidupan ini dimana Tuhan menggarap seseorang. Jika momentum-momentum itu berlalu, maka kesempatan yang sama bisa tidak pernah diperoleh lagi. Seperti Esau yang menyia-nyiakan kesempatan yang ada, sehingga ia kehilangan momentum berharga selamanya (Ibr. 12:16-17). Tuhan tahu momentum-momentum apa yang efektif untuk membentuk seseorang dalam situasi tertentu. Trend seperti ini juga bisa dikatakan waktu sesuai dengan trendnya dalam bahasa Yunani terjemahan dari phora (φορά). 

Beberapa kata untuk waktu tersebut mengisyaratkan bahwa seluruh perjalanan waktu hidup ini penting. Bukan hanya awal perjalanan yang penting tetapi juga seluruh hora (durasi), kronos (urut-urutan kejadian) dan kairos (momentum atau kesempatan) yang Tuhan sediakan bagi orang percaya guna proses pendewasaannya. 


Dalam hal ini kita memahami betapa berharganya setiap detik waktu kita. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom.

Kamis, 04 Desember 2014

INGIN DEKAT TUHAN


Berbeda dengan Daud sebagai seorang Lewi yang berkarunia musik dan nubuat, ia rajin menggubah mazmur di tengah kesibukannya melayani. Mazmurnya menjadi doanya kepada Tuhan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mazmurnya mengungkapkan pujian, pengagungan, ucapan syukur, kasih, kepercayaan, dan kerinduan akan persekutuan yang erat dengan-Nya. Mazmur Daud telah dikutip sebanyak 186 kali di dalam kitab Perjanjian Baru, hal ini menunjukkan betapa mazmur-mazmur itu begitu meresap di dalam hati Yesus dan penulis kitab Perjanjian Baru lainnya. Saat ini banyak penyanyi rohani yang menggunakan ayat-ayat pada kitab Mazmur sebagai lirik lagu yang kemudian diaransemen menjadi lagu yang begitu indah. Lagu-lagu itu kini menjadi nyanyian pujian di banyak gereja di dunia. 

Doa merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dia menantikan seruan hati kita yang menaikkan pujian, ucapan syukur, kasih, kepercayaan, dan kerinduan kepada-Nya—MUS 

DOSA MEMBUAT KITA JAUH DARI TUHAN, 
DOA MEMBUAT KITA DEKAT DENGAN TUHAN

Rabu, 03 Desember 2014

Kehilangan Arah


Kehilangan Arah

Baca: 1 Timotius 6:6-10

6:6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman. —1 Timotius 6:10

Kehilangan Arah

Suatu survei online yang diselenggarakan oleh sebuah firma hukum di New York mengungkapkan bahwa 52 persen dari para pedagang saham, pialang, bankir investasi, dan pelaku bisnis jasa keuangan lainnya di Wall Street pernah terlibat dalam kegiatan ilegal atau meyakini bahwa mereka mungkin perlu melakukan kegiatan ilegal itu untuk mencapai sukses. Survei tersebut menyimpulkan bahwa para pemimpin dalam bisnis keuangan itu “telah kehilangan kompas moral mereka” dan “menganggap perbuatan ilegal di dunia usaha sebagai kejahatan yang wajar dan perlu”.

Saat membimbing Timotius yang masih muda, Rasul Paulus memperingatkan bahwa sifat cinta uang dan hasrat untuk menjadi kaya telah menyebabkan sebagian orang tersesat dan kehilangan arah hidup. Mereka takluk kepada beragam godaan dan terjerat oleh “berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan” (1Tim. 6:9). Paulus melihat “cinta uang” (bukan uang itu sendiri) sebagai akar dari “segala kejahatan” (ay.10), terutama kejahatan berupa ketergantungan pada uang dan bukan ketergantungan pada Kristus.

Dengan terus belajar melihat Kristus sebagai sumber dari segala yang kita miliki, kita akan menemukan kepuasan di dalam Dia dan bukan dari harta benda. Ketika kita mengejar kesalehan daripada kekayaan, kita akan memperoleh sebuah kerinduan untuk selalu setia dengan segala sesuatu yang sudah kita terima.

Dengan penuh kesadaran, marilah kita mengembangkan sikap puas di dalam Allah, dan dengan setia berserah kepada-Nya, karena Allah yang Maha Pemelihara akan menjaga kita senantiasa. —MLW

Bapa, aku mudah melihat bahwa cinta uang itu masalah orang lain.
Namun, aku sadar aku juga bergumul demikian. Aku perlu
pertolongan-Mu untuk belajar bersyukur atas semua pemberian-Mu.
Tumbuhkan dalam diriku sikap puas di dalam Engkau.

Cinta uang berarti lupa pada Sang Sumber Kehidupan.