Minggu, 7 Desember 2014
Bacaan Alkitab hari ini:
Di hadapan Mahkamah Agama, Rasul Paulus tiba-tiba mengucapkan kalimat yang mengejutkan: “Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah Agama ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati.” Karena sebagian dari anggota Mahkamah Agama adalah orang Farisi yang percaya akan kebangkitan orang mati dan sebagian lagi adalah orang Saduki yang tidak percaya, terjadilah keributan dan perpecahan di Mahkamah Agama (23:6-8).
Ketika Rasul Paulus menegaskan bahwa sampai hari itu dia hidup dengan hati nurani yang murni, Imam Besar menyuruh orang menampar dia (23:1-2). Jelas sekali bahwa Rasul Paulus melihat bahwa dirinya tidak akan diadili dengan benar oleh Mahkamah Agama. Maka dengan cerdik, ia memanfaatkan suasana dan menimbulkan keributan di Mahkamah Agama serta memilih untuk diadili oleh orang Romawi. Betapa perlunya memohon hikmat seperti ini kepada Tuhan. Kita tidak boleh lari dari penderitaan bagi Tuhan, tetapi kita juga tidak perlu menderita karena kebodohan kita.
Tuhan melindungi Rasul Paulus melalui kemenakannya (23:16) serta melalui kepala pasukan Romawi (23:10, 23). Tuhan bahkan memberi kekuatan dengan mendatangi Paulus (23:11). Satu hal yang tidak dilakukan Tuhan adalah membebaskan Paulus dari penjara. Tetapi, di dalam keadaan terbelenggu itulah, penyertaan Tuhan dirasakan dengan luar biasa oleh Rasul Paulus. Tuhan tidak menjanjikan kemudahan, tetapi Tuhan meyakinkan dia bahwa Rasul Paulus akan pergi ke Roma dan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan di Yerusalem: Bersaksi. Kata Yunani untuk “saksi” adalah marturia. Dari kata itulah muncul kata “martir”. Ketika kita menderita karena Tuhan, Tuhan tidak selalu membebaskan kita. Tetapi, penyertaan Tuhan pasti selalu ada. Bukankah itu cara Tuhan? Pernahkah Anda mengalaminya? Renungkanlah ayat di bawah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar