Kamis, 27 November 2014

Yang Dituntut Tuhan

Dalam Yohanes 14:6 Tuhan Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Kata datang dari teks aslinya erchomai yang juga bisa berarti accompany (menemani bersama). 

Pernyataan Tuhan Yesus ini bukan sesuatu yang dapat dianggap sederhana. Bila ditinjau dari konteks Yahudi, pernyataan ini bisa dianggap terlalu berani, sebab Bapa yaitu Yahwe adalah Sosok yang dianggap sangat sakral, agung dan tidak tersentuh. Dari pernyataan Tuhan Yesus ini diisyaratkan kemungkinan untuk “sampai kepada Bapa”, sebuah persekutuan atau kebersamaan. Siapakah kita sehingga dapat menjadi “orang dekat-Nya”? Tetapi inilah anugerah yang tiada tara yaitu ketika kita menjadi kekasih Tuhan yang dibahasakan dengan pengakuan: “You are my everything”. Ini lebih dari sukses karir, studi rumah tangga dan lain sebagainya. Inilah hari depan yang penuh harapan yang sesungguhnya.

Penulis kitab Ibrani menyatakan: “Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai, kepada bunyi sangkakala dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka…. Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna…” (Ibr 12:18-24).

Tuhan tidak menuntut harta kita, tetapi Tuhan menghendaki agar hati kita diserahkan kepada-Nya. Orang yang menyerahkan hatinya kepada Tuhan berarti mengingini Tuhan lebih dari mengingini segala sesuatu. Kesalahan yang sangat membahayakan bagi hidup kita adalah tidak fokus. Akibat dari kesalahan ini besar sekali arti negatifnya bagi hidup. Kesalahan ini berjangkit hampir atas semua orang Kristen. Malangnya banyak orang Kristen tidak menyadari kesalahan yang bisa berakibat sangat fatal ini. Kesalahan itu dapat dikalimatkan sebagai: Tidak memiliki fokus hidup yang benar. Kata lain yang searti dengan itu adalah “disorientasi” (disorientate). Tidak fokus hidup ini dapat membuat sesat, sebab ia kehilangan arah atau tidak memiliki tujuan perjalanan. Fokus hidup yang benar adalah pribadi Tuhan sendiri. 

Selanjutnya juga kerajaan dan kebenaran-Nya. Amin (Truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom.

Senin, 24 November 2014

SEGALA SESUATU ADA BATASNYA (1)

SEGALA SESUATU ADA BATASNYA (1)



Baca: Mazmur 104:1-9

"Batas Kautentukan, takkan mereka lewati, takkan kembali mereka menyelubungi bumi."  mazmur 104:9

Setinggi-tingginya langit pasti ada batasnya, selebar-lebarnya daratan ada batasnya, sedalam-dalamnya lautan dan samudra juga ada batasnya, juga luasnya bumi ada batasnya.  Tak terkecuali dengan manusia, ia memiliki kekuatan dan kemampuan yang sangat terbatas, termasuk umur dan masa hidup pun ada batasnya.  Semua hanya tinggal menunggu giliran waktu saja,  "...seperti suatu giliran jaga di waktu malam."  (Mazmur 90:4).  Hal ini disadari oleh Musa:  "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap."  (Mazmur 90:10).

     Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa untuk segala sesuatu yang ada di dunia ini memang ada batasnya.  Pengkotbah pun menyatakan,  "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya."  (Pengkhotbah 3:1).  Siapakah yang membatasi semua yang ada di bawah langit ini?  Ialah Tuhan, tiada yang lain, karena Dia adalah  "...Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat,"  (Ulangan 10:17).  Sungguh, Dia adalah Tuhan yang tiada tandingan-Nya, Ia lebih besar dari apa pun dan siapa pun.  Jadi jika kita menyadari bahwa segala sesuatu ada batasnya, maka kita harus:  1.  Belajar bergantung penuh kepada Tuhan, percaya kepada-Nya dan mengandalkan Dia dalam segala hal.  Siapakah kita ini sehingga tidak hidup bergantung kepada Tuhan, melupakan Dia dan lebih mengandalkan kekuatan, kemampuan dan kepintaran diri sendiri?  Seringkali kita merasa diri hebat, pintar, bijak dan mampu.  Ingatlah kita ini hanyalah debu  (Kejadian 3:19), tak lebih daripada embusan nafas  (Yesaya 2:22), dan  "seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu."  (Mazmur 90:5-6).

     Jadi,  "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak,"  (Amsal 3:5-7).  Yesus berkata,  "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  (Yohanes 15:5b).  

Jika demikian, masihkah kita membangga-banggakan diri sendiri?

ORANG KAYA: Sukar Masuk Sorga (2)


Baca:  Markus 10:17-27

"...pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."  Markus 10:21

Alkitab dengan tegas menyatakan:  "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."  (Efesus 2:8).  Kita diselamatkan bukan karena usaha kita melainkan karena kasih karunia  "...yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus..."  (2 Timotius 1:9).  Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, tidak ada yang lain, sebab  "...keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."  (Kisah 4:12).  Jadi untuk memperoleh kehidupan kekal syarat utamanya adalah percaya kepada Tuhan Yesus dan mengikut Dia.

     Tuhan Yesus berkata,  "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."  (Markus 8:34).  Artinya kita harus menempatkan Tuhan Yesus sebagai prioritas utama dalam hidup kita, mengasihi Dia lebih dari segala yang kita miliki, termasuk harta kekayaan kita.  Jadi, benarkah orang kaya itu mengasihi Tuhan lebih dari segalanya?  Karena untuk mengikut Tuhan ada harga yang harus dibayar, yaitu penyangkalan diri.  Menyangkal diri terhadap segala kenyamanan, kesenangan, hobi, kedudukan, popularitas dan juga kekayaan.  Ketika Tuhan Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk menjual segala yang dimiliki dan membagikannya kepada orang-orang miskin,  "...ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya."  (Markus 10:22).  Terbukti jelas bahawa orang kaya itu lebih mengasihi hartanya dari pada mengasihi Tuhan.  Hatinya telah terpaut kepada harta kekayaannya.  Ia tidak bisa menuruti perintah Tuhan Yesus karena satu hal, yaitu harta kekayaannya.

     Sungguh benar,  "...di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  (Matius 6:21).  Harta kekayaan ternyata bisa menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengasihi Tuhan;  dan semakin hati kita berpaut kepada harta, Kerajaan Sorga semakin jauh dari kita!

"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?"  Matius 16:26


Sabtu, 22 November 2014

Menemukan Yesus Dalam Kisah Nuh Nuh

Dan bagimu, yang merasa diri begitu hina dan yang mengira bahwa Allah tidak mungkin mengampuni dirimu, pandanglah Kristus! Lihatlah, Ia telah melakukan hal terbesar yang bisa Ia lakukan untukmu, yakni Ia mati! Pandanglah, Ia telah menyerahkan hal terbesar yang sanggup Ia berikan padamu, yakni diri-Nya sendiri! Semua itu Ia lakukan agar engkau tahu bahwa tidak ada satupun hal yang membuat Ia tidak mau dan tidak mampu mengampuni dan menerima dirimu asal kau percaya kepada-Nya dan menjadikan-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat hidupmu. Percayalah, serahkanlah diri-Mu kepada-Nya, biarkanlah Ia menyelamatkan jiwamu. Ketahuilah, Ia akan dengan senang hati menyelamatkanmu.

Aku akan bergirang karena mereka untuk berbuat baik kepada mereka 
dan Aku akan membuat mereka tumbuh di negeri ini dengan kesetiaan, 
dengan segenap hati-Ku dan dengan segenap jiwa-Ku.
(Yeremia 32:41)

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pembahasan kita tentang pribadi Nuh berakhir di sini. Tetapi tunggu dulu! Kita belum benar-benar selesai dengan kisah ini. Sebab di dalam kisah ini, bukan hanya Nuh, yang mengarahkan pandangan kita pada Kristus. Apakah kau tahu satu hal lagi yang menjadi gambaran dan nubuatan mengenai Kristus?

Yup, itulah Bahtera Nuh

Sampai bertemu lagi
Tuhan Yesus memberkati

Jumat, 21 November 2014

Kehausan Yang Benar

Fakta ini dikemukakan Tuhan dalam Yohanes 4:13-14“Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Lebih dari segala kebutuhan, Tuhanlah kebutuhan manusia yang mutlak, bahkan Tuhan dipandang sebagai satu-satunya kebutuhan. Seorang yang menjadikan Tuhan segalanya, bisa hidup tanpa apa pun dan siapa pun tetapi tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Ia akan berusaha menyukakan hati Tuhan dan memuaskan hasrat-Nya. Jiwanya akan sangat terganggu kala berbuat suatu kesalahan. Baginya melukai hati Tuhan sama dengan melukai diri sendiri. Hal ini sangat menyakitkan.

Orang-orang berdosa yang pikirannya dan jiwanya telah dicemari oleh hasrat duniawi tidak akan memahami hukum kehidupan ini atau kodrat ini. Mereka merasa bahwa yang dibutuhkan dan dapat memberi kebahagiaan adalah materi, kehormatan dan lain sebagainya, bukan Tuhan. Tuhan adalah alat untuk meraih semua yang dipandang kebutuhan tesebut. Tuhan tidak menjadi kebutuhannya, tetapi alat untuk meraih kebutuhan. Sangat tipis perbedaan antara apa yang dibutuhkan dan alat untuk meraihkebutuhan, tetapi sebenarnya sangat jauh berbeda. Jarang sekali umat Perjanjian Lama memahami hal ini, karena mereka belum mengenal Injil kebenaran seperti yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Fokus mereka masih sekitar pemenuhan kebutuhan jasmani. Orang percaya yang hidup di zaman anugerah dan mengenal Injil kebenaran harus memiliki kehidupan yang berkualitas, yang dapat menjadikan Tuhan sebagai segalanya dalam hidup ini. Kekristenan merupakan proses untuk mengubah kehausan jiwa. 

Dari kehausan kepada banyak hal, berubah menjadi kehausan akan Tuhan saja. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom..


Kamis, 20 November 2014

Pengalaman Mistis

Kesiapan mental ini bukan menyangkut kerendahan hati, dimana seseorang yang memiliki pengalaman supranatural tetap rendah hati dan menyadari bahwa pengalaman spektakuler yang dialaminya adalah pemberian Tuhan bukan prestasinya. Kesiapan mental juga menyangkut kejujuran. Fenomena alam jiwanya tidak boleh diakui sebagai pernyataan atau wahyu dari Tuhan. Pengalaman orang lain yang didengar atau dibacanya dari buku, hendaknya tidak diimpor dan diakuinya sebagai pengalaman pribadinya. Untuk menghindari penyesatan ini kita harus memahami kebenaran Alkitab dengan benar. Dalam hal ini jelas dibutuhkan perangkat kebenaran Alkitab bukan pengalaman pribadi seseorang. Pengalaman pribadi seseorang bisa salah. Bisa salah di sini maksudnya bahwa pengalaman pribadi seseorang belum tentu dari Tuhan. Bukan tidak mungkin, aktivitas jiwa yang sangat subyektif dibungkus atau dikemas dengan lebel sebagai pengalaman rohani dari Allah, kemudian memaksa orang lain untuk mengakuinya sebagai dari Tuhan. Lebih konyol lagi kalau kemudian hal itu dijadikan standar kebenaran. 

Untuk membebaskan banyak orang Kristen hari ini dari penipuan-penipuan tersebut, gereja dan para hamba Tuhan harus mengajarkan kebenaran Alkitab yang murni kepada jemaat. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom.


Menemukan Yesus Dalam Kisah Nuh (2)

5. Persembahan Nuh dan Perjanjian Allah

Hal terakhir dari Nuh yang menggambarkan Kristus adalah persembahan yang ia panjatkan bagi Tuhan:

Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN;
dari segala binatang yang tidak haram
dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor,
lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu. (Kejadian 8:20)

Firman Tuhan berkata bahwa Nuh mempersembahkan segala hewan yang tidak haram kepada Allah dan persembahan itu berbau harum di hadapan-Nya. Allah berkenan menerima persembahan Nuh. Setiap kali Alkitab mengisahkan hewan dikorbankan kepada Allah, baik untuk penebusan dosa maupun untuk pengucapan syukur, sesungguhnya Alkitab sedang menunjuk kepada Yesus Kristus. Bukanlah persembahan itu yang menjadikan dosa seseorang diampuni. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa (Ibrani 10:4). Bukan pula darah hewan itu yang bisa meneduhkan hati Allah sehingga Ia menjadi berkenan kepada manusia yang berdosa. bersambung>> halaman Berikutnya...

Selasa, 18 November 2014

Pendahuluan Buku Hidup

Alkitab harus merupakan “pendahuluan“ dari isi buku kehidupan kita. Dengan demikian Alkitab adalah bagian hidup kita. Bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh perjalanan studi, karir, rumah tangga dan lain sebagainya. Rasul-rasul dan bapak-bapak gereja telah mendahului kita melukis isi pendahuluan buku kehidupan kita. Hal ini dikemukakan dengan maksud agar kita tidak memisahkan diri dari pengalaman hidup tokoh-tokoh iman. Seperti mereka mengalami Tuhan secara riil, kita juga harus mengalami Tuhan dengan kualitas yang sama. Tuhan tidak menempatkan seseorang boleh mengalami Tuhan secara berlimpah sementara yang lain tidak. Untuk itu Alkitab tidak boleh menjadi ruangan museum yang hanya menjadi obyek wisata, tanpa bertalian dengan hidup kita hari ini. Alkitab adalah ruang tamu kita atau teras depan rumah kita. Seseorang tidak dapat masuk rumah tanpa melalui teras depan rumah. Kita harus berani menarik kehidupan tokoh-tokoh iman dan segala kebenaran dalam Alkitab terwujud atau dialami oleh kita setiap hari dengan kualitas yang sama. Sebab Tuhan tidak melarang kita mengalami apa yang dialami oleh kekasih-kekasih-Nya pada masa lalu. Tuhan yang tidak berubah adalah Tuhan yang membuka diri terhadap setiap orang yang haus dan lapar akan diri-Nya. Perhatikan, kata “yang haus dan lapar”. 

Hanya orang yang haus dan lapar yang akan dipuaskan (Mat. 5:6). Tuhan menetapkan bahwa orang yang mencari Tuhan akan menemukan-Nya. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom..