Minggu, 02 November 2014
Bukan Sekedar Yakin Tetapi Tahu
Tidak Berharap Kebahagiaan Dunia
Alkitab dalam setahun: Roma 8-10
Kekristenan bukan agama untuk orang kebanyakan, artinya bahwa ke-Kristenan adalah jalan hidup yang hanya bisa dikenakan oleh segelintir orang yang tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia. Untuk hal yang bersifat temporal atau bernilai sementara tetapi harus mengorbankan yang abadi adalah suatu kebodohan. Tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia bukan berarti tidak bahagia, justru Tuhan akan menggirangkan kita dengan segala hal yang ada pada kita. Memang pada dasarnya kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Ketika seorang penduduk desa bisa memiliki sebuah sepeda yang dapat membawa kayu bakar dari rumah ke pasar, hal itu sudah sangat membahagiakan. Sebaliknya ketika seorang pengusaha di kota besar bisa membeli mobil mewah tetapi ia tidak merasa puas maka mobil mewahnya tidak membahagiakan hatinya. Kebahagiaan tergantung dari cara seseorang memandang dan memaknai hidupnya. Kalau cara pandang hidup sudah salah, menganggap yang dapat membahagiakan hatinya adalah sesuatu yang menjadi target, maka ia akan diperbudak oleh sesuatu itu. Penduduk desa tersebut sebenarnya juga diperbudak oleh sepeda, karena sepeda itulah yang dapat membahagiakan hatinya. Untung hanya sepeda yang kekuatan sosial ekonominya rendah. Kalau pun ada korban, kecil korbannya. Bagaimana kalau targetnya adalah pesawat pribadi, kapal pesiar, rumah mewah seharga di atas 100 milyar dan lain sebagainya yang memiliki kekuatan sosial ekonomi besar, maka akan makan korban dalam jumlah yang lebih besar juga. Manusia yang sudah terbelenggu oleh filosofi hidup yang salah akan terus terbelit oleh filosofinya tersebut sampai membunuh dirinya dan membunuh banyak orang. Orang seperti ini tidak dapat mengikut Tuhan Yesus.
Selama orang masih berharap bahwa dunia bisa memberikan hidup yang lengkap, utuh, bahagia, aman dan nyaman maka ia tidak akan pernah mengenakan ke-Kristenan yang sejati. Ke-Kristenan yang dikenakan pasti palsu. Tetapi inilah kodrat manusia pada umumnya. Hal ini diwariskan oleh orang tua kepada kita dan yang dapat diserap dari lingkungan dunia di sekitar. Korban Tuhan Yesus di kayu salib hendak menebus kita dari cara hidup yang salah ini (1Ptr. 1:18). Cara hidup yang benar adalah menyiapkan akal budi, tetap waspada (tidak mengikut jalan dunia) dan meletakkan pengharapan seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepada orang percaya pada waktu penyataan Yesus Kristus (1Ptr. 1:13). Itu berarti, lebih dari menggumuli untuk mencapai segala hal yang diharapkan yang dapat membahagiakan diri, seorang anak Tuhan harus hidup dalam ketaatan kepada Allah Bapa dan menjadi kudus dalam seluruh kehidupannya(1Ptr. 1: 14-16).
Selama orang masih berharap dunia bisa memberikan kebahagiaan,
maka ia tidak akan pernah mengenakan kekristenan yang sejati
Pengertian Sempurna
Alkitab dalam setahun: Roma 4-7
Kata sempurna dalam Matius 5:48 sebenarnya tidak mudah untuk dipahami. Kata ini dalam teks aslinya adalah teleioi (τέλειοι) dari kata teleios (τέλειος). Kata ini memiliki beberapa pengertian antara lain: having attained the end or purpose, complete, perfect (telah mencapai akhir atau tujuan, lengkap, sempurna). Juga berarti full-grown, mature, adult (penuh kedewasaan, matang, dewasa). Juga berarti fully developed in a moral sense (dikembangkan sepenuhnya dalam arti moral). Tetapi yang jelas bahwa kesempurnaan dalam ayat ini hendak menunjuk kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Allah Bapa. Tingkatan kualitas moral yang harus dimiliki orang percaya. Allah berfirman agar umat kudus seperti Dia kudus (1Ptr. 1:16). Hal ini sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) dan sama dengan mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4). Semua ini menandai bahwa seseorang menjadi sah sebagai anak Allah.
Setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan ini. Untuk itu, perhatian orang percaya tidak boleh terbelah untuk hal yang mengganggu pertumbuhan kesempurnaan seperti Bapa. Dalam kesaksiannya Paulus menyatakan: Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus (Fil. 3:12). Orang percaya ditangkap Allah supaya akhirnya memiliki kehidupan yang sempurna seperti Bapa di Sorga. Hidup selama 70 sampai 80 tahun merupakan masa untuk mengejar suatu prestasi abadi, yaitu sempurna seperti Bapa. Jika fokus hidup orang percaya tertuju kepada hal yang lain, maka target yang harus dicapai tidak akan tercapai. Sebab yang sungguh-sungguh berusaha saja bisa nyaris tidak bisa meraih apalagi yang tidak sungguh-sungguh. Untuk terselenggaranya hidup sesuai dengan kehendak Allah atau sempurna seperti Allah Bapa, Roh Kudus dimeteraikan dalam kehidupan orang percaya. Roh Kudus inilah yang mengerami kehidupan orang percaya agar “pecah” seperti telur ayam dan memunculkan anak ayam. Ini menunjuk kepada kelahiran baru yang menjadi titik awal dari kehidupan ilahi yang tidak pernah bisa mati dalam kehidupan orang percaya. Tanpa kelahiran baru seseorang tidak akan pernah selamat, artinya tidak pernah bisa diperbaharui untuk mencapai kesempurnaan Kristus. Ini masalah pelik dewasa ini, banyak orang Kristen yang kelihatannya sudah bertobat, tetapi sebenarnya pertobatannya tidak signifikan mengubah kehidupannya untuk memiliki kehidupan Ilahi. Pertobatan adalah proses setiap hari dimana seseorang meninggalkan cara hidupnya yang lama. Pertobatan ini dimotori oleh pengertian yang benar terhadap Firman Tuhan.
Setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan ini.
Kehadiran Tuhan
Baca: 1 Korintus 6:19
Alkitab dalam setahun: 2 Raja-raja 18–19
Orang-orang beragama berurusan dengan Tuhan hanya di rumah ibadahnya. Orang-orang Kristen juga terjebak dalam pola yang sama, yaitu menganggap berurusan dengan Tuhan hanya bisa di gereja. Padahal rumah ibadah manusia sesungguhnya adalah seluruh tempat dimana ia menjelajahi hidup ini, dan jam ibadahnya adalah seluruh waktu yang dimilikinya.
Penyembahan yang diinginkan Allah adalah penyembahan dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24), yaitu ibadah yang tidak dibatasi oleh ruangan, waktu dan tatacara upacara keagamaan. Dalam hal ini nyatalah bahwa Kekristenan adalah jalan hidup, bukan agama. Dalam Kekristenan, yang penting adalah bagaimana di seluruh perjalanan hidup kapan pun dan di mana pun kita melakukan segala sesuatu untuk kepuasan hati Tuhan dengan sikap hati yang menghargai dan menghormati-Nya setinggi-tingginya.
Menghargai Allah setinggi-tingginya hanya dapat dilakukan bila kita menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup ini. Artinya di mana pun kita dalam suatu kesadaran bahwa Allah hidup dan hadir. Memang sangat mudah bibir orang mengatakan Tuhan ada di mana-mana, tetapi kebanyakan orang berusaha menghayati Tuhan hanya pada waktu ada dalam suasana menjalani ritual keberagamaan atau liturgi. Itu sebabnya sudah menjadi tradisi agamawi bahwa ada tempat-tempat tertentu yang disakralkan, seakan-akan ada tempat yang istimewa bagi Tuhan di bumi ini.
Memang sebelum Tuhan Yesus datang ke dunia, Allah menyatakan kehadiran-Nya melalui tabut perjanjian yang ada di Bait Allah. Tetapi setelah Tuhan Yesus datang ke dunia maka bait Allah adalah tubuh orang percaya itu sendiri. Dengan menyadari tubuh kita adalah bait Roh Kudus atau bait Allah, maka seharusnya kita bersikap takut akan Allah dalam penggunaan tubuh ini, karena Allah hadir di dalam tubuh kita.
Sayang sekali banyak orang Kristen berusaha menghayati kehadiran Tuhan hanya di gereja, seakan-akan Ia bisa dijangkau dan dirasakan secara penuh hanya ada di gereja. Di luar ruangan gereja mereka tidak perlu menghayati kehadiran Tuhan. Kalau begini akhirnya mereka gagal menghayati kehadiran Tuhan, sebab kalau seseorang tidak menghayati kehadiran Tuhan setiap hari, ia tidak akan bisa menghayati kehadiran Tuhan dengan benar baik di gereja atau di mana pun. Kalaupun seolah-olah bisa menghayati kehadiran Tuhan, itu hanya sebuah stimulasi perasaan, kondisi emosional yang sebetulnya hadirat Tuhan yang palsu.
Kehadiran Allah kapan saja dan di mana saja nyata jika kita takut kepada Allah sebab
menyadari tubuh kita adalah bait Roh Kudus.
Irama Penyembahan
Baca: Yohanes 4:24
Alkitab dalam setahun: 2 Raja-raja15–17
Banyak orang yang tidak menghayati keberadaan Tuhan, sebab mereka tidak sungguh-sungguh mengakui dan menyadari bahwa mereka hidup di alam semesta yang dikuasai oleh Sang Pencipta. Orang-orang seperti ini pasti tidak menghormati Tuhan secara pantas. Bagaimana mereka bisa menghormati Tuhan secara pantas, kalau menghayati kehadiran-Nya saja tidak sanggup?
Hari ini penyembahan terlampau disederhanakan menjadi “pujian dan penyembahan” atau “praise and worship” yaitu nyanyian rohani dengan kata-kata penghormatan kepada Tuhan dalam liturgi di gereja. Akibatnya setelah menyanyikan nyanyian rohani, orang merasa telah menyembah Allah. Padahal menyembah seharusnya adalah irama jiwa yang dikendalikan oleh rohnya, sebab Allah menghendaki penyembahan dalam roh dan kebenaran.
Menyembah, proskynéo artinya “memberi nilai tinggi Tuhan” atau memperlakukan Tuhan sebagai Pribadi yang paling terhormat. Irama penyembahan dikendalikan oleh roh, yaitu roh manusia yang berasal dari Allah (Kej. 2:7) telah sinkron dengan jiwa yang diperbaharui oleh kebenaran Firman Tuhan. Penyembahan dari roh dan kebenaran ini bisa terwujud kalau kita mengenal Allah dengan benar dan memiliki persekutuan dengan-Nya setiap saat. Tentu hal ini tidak bisa dimiliki seseorang dalam sekejap.
Jadi semestinya praise and worship di gereja menjadi sarana untuk mengekspresikan irama menyembah yang telah kita miliki dari kehidupan kita setiap hari, bukan usaha untuk menggerakkan jiwa agar bisa menyembah Allah. Usaha menggerakkan jiwa merupakan manipulasi perasaan yang mengakibatkan kemunafikan, sebab kata-kata yang diucapkan tidak sejalan dengan perbuatan setiap hari.
Satu hal yang sangat penting untuk diketahui adalah bahwa untuk bisa menghayati keberadaan Sang Pencipta, kita harus mengenal-Nya dengan benar. Tanpa mengenal-Nya dengan benar kita hanya mampu menghayati keberadaan Allah melalui ritual keagamaan, tetapi tidak sanggup menghayati keberadaan-Nya melalui segala kegiatan hidup setiap saat dan di manapun kita melangkah hidup. Jadi marilah kita selalu belajar mengenal-Nya dengan benar melalui kebenaran Firman-Nya, agar kita dapat hidup dalam irama penyembahan yang benar yaitu dalam sepanjang hidup kita, bukan hanya beberapa saat saja di kebaktian di gereja atau di persekutuan doa.
Irama penyembahan dihasilkan dari menghayati keberadaan Sang Pencipta melalui
pengenalan dari kebenaran Firman.
Berjaga-jaga dan Berdoa.
Alkitab dalam setahun: 2 Raja-raja 12–14
Keselamatan dari Allah kita terima sama sekali bukan karena perbuatan baik atau jasa kita, tetapi oleh karena anugerah. Tetapi anugerah itu pun akan sia-sia apabila kita tidak bertanggung jawab pemberian Allah tersebut. Anugerah-Nya memberi jalan bagi kita untuk menjadi anak Allah, atau pantas disebut anak Allah. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Paulus berkata bahwa ia juga berusaha, baik diam di dalam tubuh ini, maupun diam di luarnya, supaya dikenan-Nya (2Kor. 5:9). Berusaha untuk dikenan ini adalah perwujudan iman yang benar. Orang yang tidak beriman tidak akan berusaha dikenan-Nya. Allah berkenan kepada kita apabila segala yang kita lakukan sesuai dengan kehendak-Nya.
Seirama dengan tanggung jawab untuk dikenan Allah ini, Paulus juga menyatakan bahwa dirinya melatih tubuhnya dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan ia sendiri ditolak (1Kor. 9:27). Pernyataan Paulus ini menunjukkan bahwa sekalipun ia sudah memberitakan Injil, tetapi kalau ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya, ia juga bisa ditolak. Ia harus mengendalikan tubuhnya, artinya rohnya harus berkuasa atas jiwanya yang mengendalikan seluruh tubuh. Untuk itu kita yang mau memperoleh perkenanan Allah harus selalu berjaga-jaga dan berdoa.
Kata “berjaga-jaga” dalam teks kita hari ini adalah gregorévo yang artinya “tetap terjaga, tidak tidur” atau “waspada”. Pertanyaannya adalah bagaimanakah sikap berjaga-jaga itu? Sikap berjaga-jaga adalah selalu berusaha mengoreksi apakah suatu tindakan baik, yang kelihatan mapupun yang tidak kelihatan, sungguh-sungguh berasal dari Allah. Koreksi tersebut hanya bisa dilakukan melalui kecerdasan roh, bukan dengan cara membandingkan dengan hukum yang tertulis. Untuk memilkiki kecerdasan roh kita harus bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan yang murni.
Langkah berikunya adalah berdoa. Kata doa dalam bahasa Yunaninya adalah prosévkhomai, gabungan dari dua kata: prós dan évkhomai. Prós adalah kata depan yang menunjukkan arah ke depan, tetapi lebih kuat daripada pró. Sementara évkhomai berarti “berharap” atau “berkehendak”. Jadi, prosévkhomai berarti harapan dan keinginan yang sangat kuat ke depan. Sebagai anak-anak Allah, yang kita pandang dan kita harapkan ke depan adalah dikenan Tuhan, agar kita dipantaskan menjadi anak-anak-Nya.
Untuk memperoleh perkenanan Allah kita harus selalu berjaga-jaga dan berdoa. Amin Tuhan Yesus Memberkati..
Sabtu, 01 November 2014
Mepa Tidak Berjaga-jaga 2
Baca: 1 Tesalonika 5:1-11
"Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput." 1 Tesalonika 5:3
Kurangnya pengenalan yang benar tentang Tuhan adalah akibat dangkalnya pengenalan kita tentang firmanNya. Kita pun menjadi kurang peka secara rohani. Kita tidak menyadari bahwa hari-hari yang sedang kita jalani ini sedang berada di penghujung zaman, artinya kedatangan Tuhan sudah teramat dekat.
Dibutuhkan sikap berjaga-jaga setiap waktu, sebab "...hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam." (1 Tesalonika 5:2). Kita berpikir bahwa situasi dan keadaan tampak baik-baik saja dan tidak ada sesuatu yang perlu dikuatirkan, "Semuanya damai dan aman..." (ayat nas). Alkitab memperingatkan: "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba." (Pengkotbah 9:12). Namun bila kita senantiasa tinggal di dalam firman Tuhan (membaca, merenungkan siang-malam dan melakukannya) maka kita akan semakin menyadari bahwa kekuatan kita sangat terbatas. Keamanan, ketenangan dan ketenteraman sejati hanya dapat kita temukan di dalam Tuhan. Tidak ada jalan lain yang membuat kita tegak berdiri di masa-masa akhir selain kita harus berjaga-jaga senantiasa di dalam Tuhan dan tidak lagi hidup semborono, sebab kita tahu nasihat Alkitab: "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:15-16).
3. Ketika kita salah dalam bergaul. "Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33b). Penulis Amsal juga mengingatkan, "Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang." (Amsal 13:20). Pergaulan salah membawa seseorang makin terbawa arus dunia ini sehingga lebih menuruti keinginan daging.
Berjaga-jagalah senantiasa karena tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi esok, sebab hari-hari ini adalah jahat!





