Selasa, 02 Desember 2014

Keterikatan Yang Abadi

Hal ini dimaksudkan agar orang percaya dalam segala keadaan, di segala tempat dan waktu ada dalam keterikatan dengan Tuhan. Jadi, tidak ada tempat dan waktu dimana orang percaya tidak melekat dengan Tuhan. 

Akhirnya keterikatan ini menjadi keterikatan abadi. Inilah sebenarnya yang disebut sebagai “covenant” (perjanjian) antara umat dan Allah. Dalam Perjanjian Lama disebut sebagai beriyth בּרְִית )Kata ini sangat penting dalam menunjukkan hubungan antara Yahwe dan Israel umat pilihan-Nya. Kata yang sejajar dengan itu dalam teks Yunaninya adalah diatheke (διαθήκη). Orang percaya tidak boleh terikat dengan Tuhan hanya pada waktu di gereja, demikian pula hendaknya kita tidak merasa tidak terikat dengan dunia hanya pada waktu di kebaktian. Untuk tidak terikat dengan dunia, seseorang tidak harus meninggalkan kesibukan di luar gereja sebagai pengusaha, tenaga medis, praktisi hukum, politisi dan lain sebagainya. 

Ada orang-orang yang beranggapan bahwa untuk bisa hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, maka harus meninggalkan pekerjaan sekuler, setiap hari rajin datang kebaktian, supaya lebih lengkap sempurna lagi maka ia menjadi fulltimer gereja; menjadi pendeta. Ini konsep salah yang mirip dengan keyakinan banyak agama. Dimana untuk menjadi orang saleh dan benar harus meninggalkan kesibukan dunia, menyingkir ke tempat sunyi agar bisa bersatu dengan Tuhan. Lalu mereka merasa diri sebagai orang yang lebih suci dibandingkan dengan orang-orang yang sibuk dalam kegiatan di luar gereja Justru ketika seseorang bergulat dalam segala pergumulan hidup di dunia, ia dapat membuktikan cinta dan kesetiaannya kepada Tuhan atau membuktikan kesalehannya yang sejati. Sama seperti seseorang bisa dikatakan sebagai perenang hebat jika bukan hanya mampu berenang di kolam renang tetapi di tengah gelombang lautan. 

Seorang suami dapat terbukti sebagai suami yang setia kalau memiliki kesempatan memindahkan hatinya kepada banyak wanita cantik tetapi tetap memilih pasangannya sendiri. Demikian pula seseorang dapat membuktikan bahwa dirinya mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu, jika memiliki kesempatan besar untuk dapat meraih kenikmatan dunia, gelar, kekuasaan, nama besar, nama baik yang dapat diraihnya, tetapi ia tetap memilih Tuhan. Dari hal ini maka teruji kecintaan seseorang terhadap Tuhannya. Tuhan memberi peluang orang percaya untuk memiliki dunia dengan segala kesenangannya, tetapi orang percaya yang setia akan berusaha untuk memilih terikat dengan Tuhan. Dalam Lukas 17, Tuhan Yesus mengutip kisah Lot. Ia mengingatkan agar orang percaya jangan gagal menyambut karya keselamatan-Nya oleh karena mencintai dunia. Lot tidak menoleh ke belakang sekalipun ia kehilangan semua hartanya di Sodom. Lot melakukan dengan setia, tetapi istri Lot tidak. 

Dalam hal ini sebagai orang pilihan kita harus berani barter; meninggalkan dunia untuk memperoleh Kerajan Surga. Kita harus berani melakukan tindakan barter seperti orang-orang yang dikemukakan dalam perumpamaan dalam Matius 13:44-46. Barter adalah masalah hati, atau batin. Apakah hati kita sungguh-sungguh tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini atau masih berharap memperoleh kebahagiaan dari berbagai fasilitas yang ada di bumi ini. Jika seseorang masih mengharapkan dapat memperoleh kebahagiaan dari dunia ini berarti tidak mengikatkan diri dengan Tuhan. 

Tetapi kalau seseorang berani meninggalkan kesenangan dunia, sebab ia hanya mau menikmati Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka ia membangun tali ikatan abadi dengan Tuhan. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom.



Senin, 01 Desember 2014

Yang Halal Tetapi Tidak Berguna

Sesuatu yang dipandang tidak salah atau tidak melanggar norma atau halal bukan berarti boleh dilakukan. Yang halal bisa menjadi ikatan yang akhirnya membelenggu hidup. Kata halal dalam teks aslinya adalah exesti (ἔξεστι) yang artinya lawfull; tidak melanggar hukum atau bisa berarti sah. Sedangkan kata berguna dalam teks aslinya adalah sumphero (Yun. συμφέρω) yang juga memiliki pengertian “membawa bersama” atau “mendukung”. 

Maksud pernyataan Paulus bahwa segala sesuatu halal baginya tetapi tidak semua berguna, artinya ia bisa berbuat segala sesuatu tetapi tidak semua yang boleh dilakukan itu berguna bagi dirinya. Berguna di sini berkenaan dengan kesucian hidup; mengacu pada ayat sebelumnya (1Kor. 6:11). 

Jadi, kalau Paulus menyatakan tidak semua berguna maksudnya adalah tidak berguna atau tidak mendukung untuk membangun kesucian hidup. Melakukan sesuatu yang tidak berguna bisa mengggangu pertumbuhan kesucian hidup dan bisa menjadi belenggu. Semua yang tidak berguna membangun kesucian hidup harus dipandang sebagai ikatan yang  harus dilepaskan. Paulus juga menyatakan bahwa segala sesuatu halal baginya, tetapi ia tidak membiarkan dirinya diperhamba oleh suatu apa pun. Ini berarti sesuatu yang tidak salah dilakukan bukan berarti boleh dilakukan. Kalau hal itu menjadi ikatan atau memperhamba maka harus dijauhi. Kalimat “diperhamba oleh sesuatu” dalam teks aslinya adalah exousiasthesomai hupo tinos (Yun. ἐξουσιασθήσομαι ὑπό τινος) artinya di bawah kekuasaan sesuatu. Kata exousiasthesomai dari kata exousia artinya kuasa atau hak. 

Dalam hal ini orang percaya tidak boleh ada dalam kekuasaan sesuatu atau ada sesuatu yang berhak menguasai atau memiliki kehidupannya. Seperti misalnya memiliki rumah bukan sesuatu yang salah, tetapi kalau memiliki rumah menjadi hukum, seakan-akan rumah harus dimiliki maka itu berarti rumah menjadi tuan yang mengikat kehidupan seseorang. Juga hal lain seperti jodoh. Tidak salah kalau seseorang memiliki jodoh tetapi kalau dijadikan suatu keharusan maka jodoh menjadi ikatan. Dari penjelasan di atas ini dapatlah dimengerti bahwa untuk tidak terikat dengan sesuatu atau seseorang, orang percaya harus berjuang, sebab selama ini sudah menjadi irama hidup bahwa yang halal boleh dilakukan. 

Banyak orang menjalani hidup tanpa memiliki kewaspadaan terhadap gerak manuver kuasa kegelapan yang berusaha untuk membelenggu kehidupan mereka. Kuasa kegelapan berusaha agar orang Kristen tidak terbelenggu oleh Tuhan, tetapi terbelenggu oleh yang lain. “Yang lain” ini bisa apa pun yang secara moral umum tidak salah untuk diingini atau dilakukan, tetapi ketika Tuhan tidak menjadi satu-satunya yang membahagiakan hidup maka pasti ada berhala atau ikatan dalam kehidupan seseorang. Memang tidak secara langsung seseorang berhubungan dengan Iblis, tetapi ketika seseorang tidak menjadikan Tuhan sebagai sumber kebahagiaannya satu-satunya, pasti ia terikat dengan sesuatu yang kepadanya ia memperhambakan diri.

 Di sini nyata betapa berat menjadi anak Tuhan yang harus mengikatkan diri dengan Tuhan. Namun, bagaimana pun berat dan sulitnya, Tuhan melalui Roh-Nya akan menuntun orang percaya sehingga dapat hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom.



TUJUAN HIDUPMU

Mazmur 90:1-17

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mazmur 90:12) Penghujung tahun 2014 makin dekat. Tidak ada salahnya kita merenung, “Ke arah mana tujuan hidupmu?” Pertanyaan penting itu perlu kita tanyakan kepada diri sendiri karena hidup ini fana. Kefanaan manusia ditandai dengan: Pertama, terbatasnya usia. Berapa lama kita bisa hidup di dunia ini? “Tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun,” kata pemazmur. Itu pun berlalunya buru-buru, dan kita melayang lenyap. Kedua, keberdosaan kita. Pemazmur berkata, “Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, .... Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu ... kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh” (Mazmur 90:7-9). 

Kita perlu menyadari kefanaan kita supaya kita hidup di dalam pertobatan dan memiliki tujuan hidup yang kekal, menyerahkan semua waktu, harta benda, karunia, dan hidup kita untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk memuaskan hawa nafsu. Musa menyerahkan tongkatnya kepada Tuhan, dan Tuhan memakainya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Daud menyerahkan pengali-alinya, dan Tuhan memakainya untuk mengalahkan Goliat. Matius, Markus, Lukas, dll. menyerahkan pena mereka kepada Tuhan, dan Tuhan memakai mereka untuk menulis Alkitab. Dorkas menyerahkan keahliannya menjahit kepada Tuhan dan Tuhan memakainya untuk menolong janda-janda. Mungkin yang kita miliki tidak banyak, tetapi yang sedikit itu akan menjadi berkat luar biasa sehingga hidup kita tidak sia-sia MEMILIKI TUJUAN HIDUP YANG KEKAL MENOLONG KITA MENJADI BIJAKSANA. Amin Tuhan Memberkati..


Minggu, 30 November 2014

Hamba Dari Semua Orang

Bacaan Alkitab hari ini: Kisah Para Rasul 17

Penolakan demi penolakan dari orang Yahudi akhirnya menuntun Rasul Paulus sampai ke Atena, daerah orang Yunani. Ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan dari cara Rasul Paulus mengabarkan Injil di sana:

Pertama, Rasul Paulus merindukan pertobatan mereka. Ketika ia berjalan-jalan dan melihat kota Atena penuh penyembahan berhala, hatinya sangat sedih (17:16). Sekarang ini, ketika melihat penyembahan berhala, kadang-kadang kita hanya menganggapnya sebagai kebudayaan lokal atau atraksi pariwisata atau sebagai bentuk kebebasan beragama. Tapi, mengapa kita tidak bersedih melihat manusia menyembah berhala?

Kedua, Rasul Paulus berusaha mengerti pemikiran dan kepercayaan orang Atena sebelum dia menyampaikan berita Injil kepada mereka (17:17-18). Tujuannya adalah supaya berita Injil bisa diterima dengan baik.

Ketiga, Rasul Paulus berusaha berbicara dengan “bahasa” yang dimengerti oleh mereka. Dia melihat mezbah dengan tulisan “Kepada Allah yang tidak dikenal” (17:23), maka dia menjadikan tulisan itu sebagai pintu masuk untuk memberitakan tentang Allah yang tidak mereka kenal, yaitu Allah yang menjadikan langit dan bumi dan memanggil manusia untuk bertobat. Rasul Paulus bahkan mengutip pujangga Yunani untuk menyampaikan khotbahnya (17:28).

Sikap Rasul Paulus ini meniru sikap Tuhan Yesus. Yesus tidak bicara dari sorga dan memaksa manusia mengerti dan percaya. Tuhan Yesus datang ke dunia, mengasihi kita, mengerti kita, dan berbicara dengan bahasa yang kita mengerti. Apakah kita seperti Yesus dan Paulus? Marilah kita mulai melihat orang-orang di sekitar kita. Maukah kita bersedih untuk mereka? Maukah kita mengerti mereka? Maukah kita berusaha berbicara dengan bahasa yang mereka mengerti supaya berita Injil mereka terima? [Siauw]

1 Korintus 9:19
“Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” 
Amin Tuhan Yesus Memberkati. Shalom.


TANGGALKAN SIFAT PEMARAHMU


Hampir semua orang pernah marah. Namun sebagai orang percaya, kita tidak boleh asal marah. Matius 5:17 mengajarkan tentang kualitas hidup yang lebih tinggi dari hukum Taurat (Matius 5:20), salah satunya adalah mengalahkan kemarahan. Kemarahan dapat menghambat persembahan/doa kita kepada Tuhan (ayat 23-24). Tuhan Yesus menghendaki supaya kita berdamai agar kita tidak beroleh hukuman (ayat 25). Amsal 29:22 juga mencatat bahwa si pemarah akan menimbulkan pertengkaran, yang berakibat pada banyaknya pelanggaran. 

Jika saat ini Anda sedang marah, berdoalah dan mintalah kekuatan dari-Nya agar tetap tenang dan bersabar. Jangan tinggalkan bekas luka di hati orang lain—DS 

ASAL MARAH DAPAT MELUKAI HATI SESAMA 
MARAH YANG BENAR MEMBANGUN SESAMA


Mengikat Diri Dengan Tuhan

Kata ini selain berarti mengikat juga bisa berarti melekatkan (Ingg. to glue) dan menempelkan secara permanen. Bagaimana implikasi konkritnya kalau seseorang mengikatkan diri dengan Tuhan? Ini adalah masalah penting yang lebih penting dari segala sesuatu, sebab orang Kristen yang gagal mengikatkan diri dengan Tuhan adalah orang yang gagal mengenali dan memiliki keselamatannya, sebab keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, di dalamnya termasuk agar manusia dapat terikat dengan Dia. Harus dipahami bahwa bagaimana pun manusia adalah makhluk yang terikat pada sesuatu atau kepada pribadi. 

Masalahnya, sesuatu itu apa atau pribadi itu siapa. Hendaknya seseorang tidak merasa sudah mengikatkan diri dengan Tuhan hanya karena setia pergi ke gereja. Mengikatkan diri dengan Tuhan berarti selalu ada dalam ketergantungan kepada Tuhan; bahwa hidup ini tidak bisa dijalani tanpa persekutuan yang benar dengan Tuhan. Persekutuan berarti bersama sepikiran dan seperasaan dengan seseorang, sehingga menjadi satu dalam tujuan dan cita-cita. Dengan demikian persekutuan dengan Tuhan adalah satu-satunya tujuan hidupnya di bumi ini. Masalah keuangan, kesehatan, status ekonomi dan sosial, pendidikan dan lain sebagainya bukanlah masalah sama sekali. 

Tanpa persekutuan dengan Tuhan berarti tanpa kehidupan. Gaya hidup seperti ini sangat berbeda dengan gaya hidup manusia pada umumnya, dimana manusia dihanyutkan oleh berbagai masalah fana dunia ini sehingga mereka menganggap remeh hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Mereka hidup hanya untuk kesenangannya sendiri dengan menggunakan sarana dunia ini. Tetapi orang yang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan tidak akan melakukan sesuatu di luar kehendak dan rencana Tuhan, Tuhan menjadi kebahagiaannya. Satu roh berarti satu gairah, satu hasrat, satu cita-cita dan satu tujuan hidup. Ini berarti satu syarat yang harus dipenuhi untuk bisa terikat dengan Tuhan adalah harus mengenal Tuhan dan semua kebenaran-Nya. 

Dari hal tersebut kita bisa mengerti kehendak Tuhan dan rencana-rencana-Nya. Seseorang tidak akan dapat memiliki gairah yang sama dengan Tuhan tanpa mengenal kehendak dan rencana-Nya. Untuk itu pula, kita harus berusaha memiliki pikiran dan perasaan seperti Dia. Dalam hal ini Sebenarnya berusaha untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus adalah usaha untuk mengikatkan diri dengan Tuhan. Orang yang terikat dengan Tuhan akan selalu merasa kesepian tanpa menghayati kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Orang yang terikat dengan Tuhan selalu merindukan kebersamaan dengan Tuhan dimana pun ia berada. 

Itu berarti tidak ada kegiatan dimana ia bisa menikmati tanpa Tuhan ikut menikmatinya. Oleh sebab itu dalam melakukan sesuatu harus dipersoalkan apakah Tuhan berkenan kita melakukan hal tersebut atau tidak. Orang yang terikat dengan Tuhan selalu ingin dinikmati oleh Tuhan dan menikmati Tuhan. Orang yang terikat dengan Tuhan akan selalu berusaha melakukan segala sesuatu untuk kepentingan Tuhan dan tidak akan menyakiti hati-Nya. 

Jika berbuat suatu kesalahan ia akan merasa sangat berduka sebab hatinya terluka. Baginya melukai hati Tuhan sama seperti melukai dirinya sendiri. Sampai pada level ini seseorang baru bisa dikatakan sebagai kekasih Tuhan. 

Orang-orang yang seperti ini barulah pantas disebut sebagai mempelai Tuhan. Amin (truth) Tuhan Yesus Memberkati Shalom.


Allah Bertahta Di Atas Pujian


Pujian AKAN Meluap Dari sebuah HATI yang Bersukacita akan MENGALAMI HADIRAT TTUHAN, yang Percaya Katakan AMIN+ SHARE + KOMENT.